PAKET UMROH BULAN FEBRUARI MARET APRIL MEI 2018




Artikel lainnya »

Saco-Indonesia.com — Setiap hari, tak terhitung banyaknya foto, video, dan jenis-jenis file lain yang diunggah oleh ratusan juta pengguna ke Facebook. Hanya sebagian kecil di antaranya yang sering dilihat oleh pengguna. Namun, semua konten ini tentu perlu disimpan sehingga memakan ruang media storage di server jejaring sosial tersebut.

Bagaimana caranya agar konten-konten usang bisa tetap dipertahankan di media penyimpanan (supaya tidak hilang ketika dicari) tetapi tidak terlalu memakan tempat dan biaya? Facebook merasa perlu mencari alternatif selain hard disk konvensional.

Minggu lalu, pada ajang Open Compute Summit, perusahaan ini memperlihatkan purwarupa sistem cold storage yang menggunakan cakram Blu-ray untuk menyimpan data hingga hitungan Petabyte atau jutaan Gigabyte.

Sebanyak 10.000 cakram Blu-ray bisa disimpan dalam lemari khusus yang tingginya lebih dari 2 meter. Lengan-lengan robot lantas mengambil cakram-cakram yang diatur dalam serangkaian magasin untuk mengambil data dari disc yang sesuai.

Sebuah cakram Blu-ray sendiri didesain utnuk menampung data mulai dari 25 GB untuk setiap keping single-layer hingga 128 GB pada keping varian 4-layer.

Dikutip dari The Verge, wakil presiden bidang teknis Facebook Jay Parikh mengatakan bahwa sistem berbasis Blu-ray ini bisa menghemat penggunaan energi hingga 80 persen dan ongkos hingga 50 persen dibandingkan metode cold storage konvensional yang mengandalkan hard disk.

Blu-ray bukan medium ideal untuk penyimpanan utama karena kecepatan transfer data yang relatif lamban, tetapi cakram ini cocok digunakan untuk menyimpan data yang jarang diakses, seperti backup file foto dan video pengguna Facebook.

Saat ini, penyimpan data Blu-ray tersebut sudah mulai digunakan oleh Facebook dan bisa menyimpan sejumlah besar data, mencapai 30 Petabyte. Ke depannya, perusahaan jejaring sosial itu berniat menggunakan flash memori hemat energi untuk menyimpan data, tetapi solusi ini relatif mahal dibandingkan alternatif lain.

Sumber: The Verge/kompas.com

Editor : Maulana Lee

Inilah Akal Facebook Menyimpan Data Pengguna

Tingginya mobilitas kehidupan masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta, semakin tinggi pula kebutuhan akan transportasi, baik itu dipergunakan untuk kebutuhan Perusahaan, instansi, lembaga, keluarga ataupun individu. Kenyamanan dan keamanan dalam berkendara haruslah telah menjadi prioritas utama. Belum lagi tingkat kriminalitas yang tinggi, polusi udara kebisingan dan segudang permasalahan lain maka sudah seharusnya kita memilah dan memilih jenis transportasi yang layak.

Untuk itulah Rental Mobil SIFADIAFIRA menyediakan dan melayani sewa mobil murah di jakarta dengan harga yang bisa di sesuaikan untuk jangka pendek maupun panjang, bulanan atau harian. Tersedia avanza, innova, travello, lexio dll dgn harga terjangkau

Disamping itu, Karena semakin banyaknya kebutuhan transportasi untuk operational kantor dan pribadi, kami Sifadiafira Rent a Car bergerak dibidang jasa transportasi menyediakan dan menyewakan macam2 merk mobil : Toyota Kijang, Suzuki APV, Honda dll. Smua rata-rata diatas tahun 2000, untuk menunjang kebutuhan transportasi anda, dengan harga yang terjangkau.

 

TEMPAT NYA SEWA MOBIL MURAH DI JAKARTA

saco-indonesia.com, Seorang anak di bawah umur telah ditangkap oleh anggota Polsek Pademangan saat mau merampok pengunjung Ancol di Jalan Budimulia RT12/12, Pademangan Barat, Jakarta Utara, Kamis (2/12) sore. Dari tangan, So yang berusia 16 tahun petugas telah berhasil menyita sebilah pisau yang digunakan untuk menodong korbannya.

Kanit Reskrim Polsek Pademangan, Iptu Suseno Adi juga mengatakan, aksi percobaan perampokan itu telah terjadi, sekitar pukul: 17.00 sore. Sarmin yang berusia 25 tahun , saat itu ingin pulang ke rumahnya di warga Jl. Mangga dua VIII No.35 Rt.13/05 Ancol, Pademangan usai bermain di Ancol.

Saat melintas jalan kaki, dari belakang So telah menarik baju korban sambil menodongkan sajam ke tubuhnya.Rupanya, So juga sudah membuntuti korban sejak dari dalam Ancol.

Tersangka telah minta korban untuk menyerahkan tas selempang dan dompetnya. Namun sial, bukannya menuruti ancaman tersangka, Sarmin malah melawan. Terjadilah perkelahian antara korban dan So.

Perkelahian itu telah dilihat oleh warga sekitar Rudi yang berusia 18 tahun. Dia telah membantu korban untuk melumpuhkan So dan ditangkap warga lalu dikeroyok.

Dari tangan tersangka asal Banten itu, petugas telah menyita 1 tas slempang warna coklat dan sebilah pisau. Akibat dari perbuatannya, tersangka telah dijerat dengan pasal 53 jo Pasal 365 KUHP tentang percobaan perampokan dengan hukuman di atas 5 tahun penjara.


Editor : Dian Sukmawati

REMAJA TODONG PENGUNJUNG ANCOL
Pencopet yang biasa beraksi di atas kereta telah berhasil diringkus oleh petugas keamanan Stasiun Depok Baru . Pelaku juga sempat merobek tas korban dan mengambil laptop serta HP BlackBerry saat kereta dalam keadaan sesak penumpang. Setelah didata di stasiun, tersangka telah diserahkan ke Polres Depok guna untuk proses penyidikan lebih lanjut. Informasi yang telah dihimpun, siang itu KRL hendak tiba di Stasiun Depok Baru. Tiba-tiba terdengar suara ribut ada orang yang kecopetan. Melihat hal itu, petugas keamanan stasiun telah mendekat dan mendapati penumpang menunjuk seorang pria yang diduga pencopet. Pria yang diketahui bernama Agus Suryadi yang berusia 34 tahun , ini pun telah berhasil ditangkap. Kepada petugas keamanan ia mengaku wartawan salah satu surat kabar nasional. Namun setelah diinterogasi dan dipertemukan dengan korban, Aris Saputra, ia pun tak bisa mengelak dan mengakui perbuatannya. “Pelaku juga merupakan pemain lama bersama komplotannya,” kata Danru Pengamanan Khusus KCJ Stasiun Depok Baru, Yucki. PENCOPET DI ATAS KERETA DITANGKAP

 TRANSFORMASI OLAH DATA ORDINAL MENJADI INTERVAL
Data yang dikumpulkan mahasiwa ketika akan membuat tugas akhir, selain data sekunder diantaranya adalah data primer. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan-catatan atau informasi tertulis dari perusahaan, serta data-data lain yang terdokumentasi dengan baik dan valid. Sedangkan data primer adalah data yang direspon langsung oleh responden berdasarkan wawancara ataupun daftar pertanyaan yang dirancang, disusun, dan disajikan dalam bentuk skala, baik nominal, ordinal, interval maupun ratio oleh mahasiswa ketika membutuhkan data demi kepentingan penelitian.

Teknik pengumpulan data seperti ini lazim digunakan karena selain bisa langsung menentukan skala pengukuranya, akan tetapi juga bisa melengkapi hasil wawancara yang dilakukan dengan responden.

Skala pengukuran yang dibuat oleh mahasiswa sebaiknya dibuat sedemikian rupa, mengikuti kaidah, sehingga akan memudahkan pemilihan teknik analisis yang akan digunakan ketika pengumpulan datanya sudah selesai.

Catatan: Artikel ini membahas bagaimana transformasi dari data ordinal ke interval, sedangkan untuk transformasi data dalam keperluan untuk memenuhi asumsi klasik, baca artikel kami yang berjudul "Transformasi Data"

Dalam studi empiris, misalnya saja mahasiswa ingin menggunakan statistika parametrik dengan analisis regresi untuk menganalisis dan mengkaji masalah-masalah penelitian. Pemilihan analisis model ini ini hanya lazim digunakan bila skala pengukuran yang yang dilakukan adalah minimal interval. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh mahasiswa sudah dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran nominal (atau ordinal).

Menghadapi situasi demikian, salah satu cara yang dilakukan adalah menaikkan tingkat pengukuran skalanya dari ordinal menjadi interval. Melakukan manipulasi data dengan cara menaikkan skala dari ordinal menjadi interval ini, selain bertujuan untuk tidak melanggar kelaziman, juga untuk mengubah agar syarat distribusi normal bisa dipenuhi ketika menggunakan statistika parametrik.

Menurut Sambas Ali Muhidin dan Maman Abdurahman, “salah satu metode transformasi yang sering digunakan adalah metode succesive interval (MSI)”. Meskipun banyak perdebatan tentang metode ini, diharapkan pemikiran ini bisa melengkapi wacana mahasiswa ketika akan melakukan analisis data berkenaan dengan tugas-tugas kuliah.

Sebelum melanjutkan pembahasan tentang bagaimana transformasi data ordinal dilakukan, tulisan ini sedikit membahas tentang dua perbedaan pendapat tentang bagimana skor-skor yang diberikan terhadap alternatif jawaban pada skala pengukuran Likert yang sudah kita kenal. Pendapat pertama mengatakan bahwa skor 1, 2, 3, 4, dan 5 adalah data interval. Sedangkan pendapat yang kedua, menyatakan bahwa jenis skala pengukuran Likert adalah ordinal. Alasannya skala Likert merupakan Skala Interval adalah karena skala sikap merupakan dan menempatkan kedudukan sikap seseorang pada kesatuan perasaan kontinum yang berkisar dari sikap “sangat positif”, artinya mendukung terhadap suatu objek psikologis terhadap objek penelitian, dan sikap “sangat negatif”, yang tidak mendukung sama sekali terhadap objek psikologis terhadap objek penelitian.

Berkenaan dengan perbedaan pendapat terhadap skor-skor yang diberikan dalam alternatif jawaban dalam skala Likert itu, apakah termasuk dalam skala pengukuran ordinal atau data interval, berikut ini kami mneyampaikan pemikiran yang bisa dijadikan pertimbangan: Ciri spesifik yang dimiliki oleh data yang diperoleh dengan skala pengukuran ordinal, adalah bahwa, data ordinal merupakan jenis data kualitatif, bukan numerik, berupa kata-kata atau kalimat, seperti misalnya sangat setuju, kurang setuju, dan tidak setuju, jika pertanyaannya ditujukan terhadap persetujuan tentang suatu event. Atau bisa juga respon terhadap keberadaan suatu Bank “PQR” dalam suatu daerah yang bisa dimulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, Setuju, dan sangat setuju.

Sementara data interval adalah termasuk data kuantitatif, berbentuk numerik, berupa angka, bukan terdiri dari kata-kata, atau kalimat. Mahasiswa yang melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, termasuk di dalamnya adalah data interval, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data bisa langsung diolah dengan menggunakan model statistika. Akan tetapi data yang diperoleh dengan pengukuran skala ordinal, berbentuk kata-kata, kalimat, penyataan, sebelum diolah, perlu memberikan kode numerik, atau simbol berupa angka dalam setiap jawaban.

Misalnya saja alternatif jawaban pada skala Likert, alternatif jawaban “sangat tidak setuju” diberi skor 1; “ tidak setuju diberi skor 2; “ragu-ragu” diberi skor 3; “setuju” diberi kode 4; dan “sangat setuju” diberi skor 5. angka-angka (numerik) inilah yang kemudian diolah, sehingga menghasilkan skor tertentu. Tetapi, sesuai dengan sifat dan cirinya, angka 1, 2, 3, 4, dan 5 atau skor yang sudah diperoleh tidak memberikan arti apa-apa terhadap objek yang diukur. Dengan kata lain, skor yang lebih tinggi lebih tidak berarti lebih baik dari skor yang lebih rendah. Skor 1 hanya menunjukkan sikap “sangat tidak setuju”, skor 2 menunjukkan sikap “tidak setuju, skor 3 menunjukkan sikap “ragu-ragu’, skor 4 menunjukkan sikap “setuju”, dan skor 5 menunjukkan sikap “sangat setuju”. Kita tidak bisa mengatakan bahwa skor 4 atau “setuju” dua kali lebih baik dari skor 2 atau “tidak setuju”.

Fenomena ini berbeda sekali dengan sifat/ciri yang dimiliki oleh data interval, dimana angka-angka atau skor-skor numerik yang diperoleh dari hasil pengukuran data langsung dapat dibandingkan antara satu dengan lainnya, dikurangkan, dijumlahkan, dibagi dan dikalikan. Misalnya saja penelitian yang dilakukan mahasiswa tentang suhu udara beberapa kelas, dan diperoleh data misalnya suhu ruangan kelas A 15 derajat Cls, suhu ruang kelas B 20 derajat Cls, dan suhu ruang kelas C 25 derajat Cls. Berarti bahwa suhu ruang kelas A adalah 75 % lebih dingin dari suhu ruang kelas B. Suhu ruang kelas A 60 % lebih dingin dari suhu ruang kelas C. Suhu ruang kelas A lebih dingin dari suhu ruang kelas B dan C. Atau suhu ruangan kelas B lebih panas dari suhu ruang kelas A, tetapi lebih dingin dibandingkan dengan suhu ruangan kelas C. Contoh lain misalnya prestasi mahasiswa yang diukur dengan skala indek prestasi mahasiswa.

TRANSFORMASI DATA ORDINAL MENJADI INTERVAL

Under Mr. Michelin’s leadership, which ended when he left the company in 2002, the Michelin Group became the world’s biggest tire maker, establishing a big presence in the United States and other major markets overseas.

François Michelin, Head of Tire Company, Dies at 88

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.

Dan Walker, 92, Dies; Illinois Governor and Later a U.S. Prisoner

With 12 tournament victories in his career, Mr. Peete was the most successful black professional golfer before Tiger Woods.

Calvin Peete, 71, a Racial Pioneer on the PGA Tour, Is Dead

Mr. Mankiewicz, an Oscar-nominated screenwriter for “I Want to Live!,” also wrote episodes of television shows such as “Star Trek” and “Marcus Welby, M.D.”

Don Mankiewicz, Screenwriter in a Family Film Tradition, Dies at 93

Since a white police officer, Darren Wilson fatally shot unarmed black teenager, Michael Brown, in a confrontation last August in Ferguson, Mo., there have been many other cases in which the police have shot and killed suspects, some of them unarmed. Mr. Brown's death set off protests throughout the country, pushing law enforcement into the spotlight and sparking a public debate on police tactics. Here is a selection of police shootings that have been reported by news organizations since Mr. Brown's death. In some cases, investigations are continuing.

Photo
 
 
The apartment complex northeast of Atlanta where Anthony Hill, 27, was fatally shot by a DeKalb County police officer. Credit Ben Gray/Atlanta Journal Constitution

Chamblee, Ga.
Fatal Police Shootings: Accounts Since Ferguson

The 6-foot-10 Phillips played alongside the 6-11 Rick Robey on the Wildcats team that won the 1978 N.C.A.A. men’s basketball title.

Mike Phillips, Half of Kentucky’s ‘Twin Towers’ of Basketball, Dies at 59

Mr. Alger, who served five terms from Texas, led Republican women in a confrontation with Lyndon B. Johnson that may have cost Richard M. Nixon the 1960 presidential election.

Bruce Alger, 96, Dies; Led ‘Mink Coat’ Protest Against Lyndon Johnson

BEIJING (AP) — The head of Taiwan's Nationalists reaffirmed the party's support for eventual unification with the mainland when he met Monday with Chinese President Xi Jinping as part of continuing rapprochement between the former bitter enemies.

Nationalist Party Chairman Eric Chu, a likely presidential candidate next year, also affirmed Taiwan's desire to join the proposed Chinese-led Asian Infrastructure Investment Bank during the meeting in Beijing. China claims Taiwan as its own territory and doesn't want the island to join using a name that might imply it is an independent country.

Chu's comments during his meeting with Xi were carried live on Hong Kong-based broadcaster Phoenix Television.

The Nationalists were driven to Taiwan by Mao Zedong's Communists during the Chinese civil war in 1949, leading to decades of hostility between the sides. Chu, who took over as party leader in January, is the third Nationalist chairman to visit the mainland and the first since 2009.

Relations between the communist-ruled mainland and the self-governing democratic island of Taiwan began to warm in the 1990s, partly out of their common opposition to Taiwan's formal independence from China, a position advocated by the island's Democratic Progressive Party.

Despite increasingly close economic ties, the prospect of political unification has grown increasingly unpopular on Taiwan, especially with younger voters. Opposition to the Nationalists' pro-China policies was seen as a driver behind heavy local electoral defeats for the party last year that led to Taiwanese President Ma Ying-jeou resigning as party chairman.

Taiwan party leader affirms eventual reunion with China

WASHINGTON — The last three men to win the Republican nomination have been the prosperous son of a president (George W. Bush), a senator who could not recall how many homes his family owned (John McCain of Arizona; it was seven) and a private equity executive worth an estimated $200 million (Mitt Romney).

The candidates hoping to be the party’s nominee in 2016 are trying to create a very different set of associations. On Sunday, Ben Carson, a retired neurosurgeon, joined the presidential field.

Senator Marco Rubio of Florida praises his parents, a bartender and a Kmart stock clerk, as he urges audiences not to forget “the workers in our hotel kitchens, the landscaping crews in our neighborhoods, the late-night janitorial staff that clean our offices.”

Gov. Scott Walker of Wisconsin, a preacher’s son, posts on Twitter about his ham-and-cheese sandwiches and boasts of his coupon-clipping frugality. His $1 Kohl’s sweater has become a campaign celebrity in its own right.

Senator Rand Paul of Kentucky laments the existence of “two Americas,” borrowing the Rev. Dr. Martin Luther King Jr.’s phrase to describe economically and racially troubled communities like Ferguson, Mo., and Detroit.

Photo
 
Senator Marco Rubio of Florida praises his parents, a bartender and a Kmart stock clerk. Credit Joe Raedle/Getty Images

“Some say, ‘But Democrats care more about the poor,’ ” Mr. Paul likes to say. “If that’s true, why is black unemployment still twice white unemployment? Why has household income declined by $3,500 over the past six years?”

We are in the midst of the Empathy Primary — the rhetorical battleground shaping the Republican presidential field of 2016.

Harmed by the perception that they favor the wealthy at the expense of middle-of-the-road Americans, the party’s contenders are each trying their hardest to get across what the elder George Bush once inelegantly told recession-battered voters in 1992: “Message: I care.”

Their ability to do so — less bluntly, more sincerely — could prove decisive in an election year when power, privilege and family connections will loom large for both parties.

Advertisement

Questions of understanding and compassion cost Republicans in the last election. Mr. Romney, who memorably dismissed the “47 percent” of Americans as freeloaders, lost to President Obama by 63 percentage points among voters who cast their ballots for the candidate who “cares about people like me,” according to exit polls.

And a Pew poll from February showed that people still believe Republicans are indifferent to working Americans: 54 percent said the Republican Party does not care about the middle class.

That taint of callousness explains why Senator Ted Cruz of Texas declared last week that Republicans “are and should be the party of the 47 percent” — and why another son of a president, Jeb Bush, has made economic opportunity the centerpiece of his message.

With his pedigree and considerable wealth — since he left the Florida governor’s office almost a decade ago he has earned millions of dollars sitting on corporate boards and advising banks — Mr. Bush probably has the most complicated task making the argument to voters that he understands their concerns.

On a visit last week to Puerto Rico, Mr. Bush sounded every bit the populist, railing against “elites” who have stifled economic growth and innovation. In the kind of economy he envisions leading, he said: “We wouldn’t have the middle being squeezed. People in poverty would have a chance to rise up. And the social strains that exist — because the haves and have-nots is the big debate in our country today — would subside.”

Continue reading the main story
 

Who Is Running for President (and Who’s Not)?

Republicans’ emphasis on poorer and working-class Americans now represents a shift from the party’s longstanding focus on business owners and “job creators” as the drivers of economic opportunity.

This is intentional, Republican operatives said.

In the last presidential election, Republicans rushed to defend business owners against what they saw as hostility by Democrats to successful, wealthy entrepreneurs.

“Part of what you had was a reaction to the Democrats’ dehumanization of business owners: ‘Oh, you think you started your plumbing company? No you didn’t,’ ” said Grover Norquist, the conservative activist and president of Americans for Tax Reform.

But now, Mr. Norquist said, Republicans should move past that. “Focus on the people in the room who know someone who couldn’t get a job, or a promotion, or a raise because taxes are too high or regulations eat up companies’ time,” he said. “The rich guy can take care of himself.”

Democrats argue that the public will ultimately see through such an approach because Republican positions like opposing a minimum-wage increase and giving private banks a larger role in student loans would hurt working Americans.

“If Republican candidates are just repeating the same tired policies, I’m not sure that smiling while saying it is going to be enough,” said Guy Cecil, a Democratic strategist who is joining a “super PAC” working on behalf of Hillary Rodham Clinton.

Republicans have already attacked Mrs. Clinton over the wealth and power she and her husband have accumulated, caricaturing her as an out-of-touch multimillionaire who earns hundreds of thousands of dollars per speech and has not driven a car since 1996.

Mr. Walker hit this theme recently on Fox News, pointing to Mrs. Clinton’s lucrative book deals and her multiple residences. “This is not someone who is connected with everyday Americans,” he said. His own net worth, according to The Milwaukee Journal Sentinel, is less than a half-million dollars; Mr. Walker also owes tens of thousands of dollars on his credit cards.

Continue reading the main story

But showing off a cheap sweater or boasting of a bootstraps family background not only helps draw a contrast with Mrs. Clinton’s latter-day affluence, it is also an implicit argument against Mr. Bush.

Mr. Walker, who featured a 1998 Saturn with more than 100,000 miles on the odometer in a 2010 campaign ad during his first run for governor, likes to talk about flipping burgers at McDonald’s as a young person. His mother, he has said, grew up on a farm with no indoor plumbing until she was in high school.

Mr. Rubio, among the least wealthy members of the Senate, with an estimated net worth of around a half-million dollars, uses his working-class upbringing as evidence of the “exceptionalism” of America, “where even the son of a bartender and a maid can have the same dreams and the same future as those who come from power and privilege.”

Mr. Cruz alludes to his family’s dysfunction — his parents, he says, were heavy drinkers — and recounts his father’s tale of fleeing Cuba with $100 sewn into his underwear.

Gov. Chris Christie of New Jersey notes that his father paid his way through college working nights at an ice cream plant.

But sometimes the attempts at projecting authenticity can seem forced. Mr. Christie recently found himself on the defensive after telling a New Hampshire audience, “I don’t consider myself a wealthy man.” Tax returns showed that he and his wife, a longtime Wall Street executive, earned nearly $700,000 in 2013.

The story of success against the odds is a political classic, even if it is one the Republican Party has not been able to tell for a long time. Ronald Reagan liked to say that while he had not been born on the wrong side of the tracks, he could always hear the whistle. Richard Nixon was fond of reminding voters how he was born in a house his father had built.

“Probably the idea that is most attractive to an average voter, and an idea that both Republicans and Democrats try to craft into their messages, is this idea that you can rise from nothing,” said Charles C. W. Cooke, a writer for National Review.

There is a certain delight Republicans take in turning that message to their advantage now.

“That’s what Obama did with Hillary,” Mr. Cooke said. “He acknowledged it openly: ‘This is ridiculous. Look at me, this one-term senator with dark skin and all of America’s unsolved racial problems, running against the wife of the last Democratic president.”

G.O.P. Hopefuls Now Aiming to Woo the Middle Class

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

Marcel Pronovost, 84, Dies; Hall of Famer Shared in Five N.H.L. Titles

Ms. Pryor, who served more than two decades in the State Department, was the author of well-regarded biographies of the founder of the American Red Cross and the Confederate commander.

Elizabeth Brown Pryor, Biographer of Clara Barton and Robert E. Lee, Dies at 64

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.

Suzanne Crough, Actress in ‘The Partridge Family,’ Dies at 52

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

A 2-minute-42-second demo recording captured in one take turned out to be a one-hit wonder for Mr. Ely, who was 19 when he sang the garage-band classic.

Jack Ely, Who Sang the Kingsmen’s ‘Louie Louie’, Dies at 71

Ms. Rendell was a prolific writer of intricately plotted mystery novels that combined psychological insight, social conscience and teeth-chattering terror.

Ruth Rendell, Novelist Who Thrilled and Educated, Dies at 85
harga paket umrah ramadhan di Ciracas jakarta
paket promo berangkat umrah akhir tahun di Jati jakarta
promo umroh mei di Balekambang jakarta
promo umrah mei bekasi barat
biaya berangkat umrah februari di Duren Sawit jakarta
harga paket berangkat umroh april di Ciracas jakarta
biaya umroh ramadhan di Cakung Barat jakarta
harga berangkat umroh akhir tahun di Malaka Sari jakarta
biaya berangkat umroh awal tahun di Bali Mester jakarta
biaya berangkat umrah april di Jati jakarta
harga paket berangkat umrah ramadhan di Kayu Manis jakarta
harga umroh januari di Cipinang Besar Utara jakarta
paket promo umrah ramadhan di Pinang Ranti jakarta
biaya berangkat umrah mei di Klender jakarta
harga paket umrah akhir tahun di Pulo Gadung jakarta
harga umroh maret di Cakung Timur jakarta
biaya umroh desember di Susukan jakarta
biaya paket umrah februari bekasi barat
paket umrah februari di Cipayung jakarta
paket umrah mei bekasi selatan
biaya paket umrah mei di Lubang Buaya jakarta
promo berangkat umroh april di Kayu Manis jakarta
biaya paket umroh mei di Rawamangun jakarta
biaya paket umroh januari di Kebon Pala jakarta
biaya paket berangkat umroh desember di Pondok Kelapa jakarta
paket umrah mei di Utan Kayu Utara jakarta
harga paket berangkat umroh juni di Kelapa Dua Wetan jakarta
harga paket berangkat umrah ramadhan di Cilangkap jakarta
harga paket berangkat umrah ramadhan di Kampung Gedong,Cijantung jakarta
promo berangkat umroh desember di Malaka Jaya jakarta
paket promo umroh juni di Ceger jakarta
biaya paket berangkat umrah maret di Malaka Sari jakarta
biaya paket umrah mei di Makasar jakarta
promo umrah april di Kebon Pala jakarta
paket promo umroh april di Ceger jakarta
paket promo umroh awal tahun di Cakung jakarta
harga paket berangkat umrah akhir tahun di Jati jakarta
promo umroh januari di Kayu Manis jakarta
paket umrah mei di Cipayung jakarta
promo umrah awal tahun di Kebon Pala jakarta
paket promo umrah februari di Duren Sawit jakarta
paket berangkat umrah ramadhan di Jatinegara jakarta
biaya paket berangkat umroh april bekasi utara
biaya berangkat umroh akhir tahun di Kayu Putih jakarta
paket berangkat umroh akhir tahun di Ciracas jakarta
paket umrah januari depok
promo berangkat umroh februari di Cipinang Melayu jakarta
biaya paket berangkat umroh akhir tahun di Ujung Menteng jakarta
harga umroh februari di Pondok Ranggon jakarta
harga umroh akhir tahun di Ceger jakarta
harga paket umrah mei di Kampung Baru jakarta
paket umroh februari bekasi selatan
harga umroh ramadhan di Pekayon jakarta
paket umroh mei di Kramat Jati jakarta
biaya umrah mei bekasi utara
paket promo berangkat umroh mei di Makasar jakarta
biaya paket berangkat umroh februari umrohdepag.com
biaya paket berangkat umroh akhir tahun di Ciracas jakarta
promo umrah desember di Pasar Rebo jakarta
harga paket berangkat umrah januari di Cilangkap jakarta
paket promo berangkat umrah awal tahun di Cakung Timur jakarta
paket umroh februari di Kampung Tengah jakarta
harga berangkat umrah ramadhan di Bali Mester jakarta
promo berangkat umroh mei di Pondok Bambu jakarta
promo berangkat umrah desember di Pulo Gadung jakarta
paket promo umrah ramadhan di Kampung Tengah jakarta
biaya paket umrah april di Makasar jakarta
promo berangkat umrah awal tahun di Batuampar jakarta
paket umroh ramadhan di Malaka Sari jakarta
harga paket berangkat umroh februari di Rambutan jakarta
biaya berangkat umrah februari di Rambutan jakarta
biaya paket umrah desember di Kramat Jati jakarta
harga umrah desember bogor
harga berangkat umrah april di Ceger jakarta
biaya berangkat umroh april di Kayu Manis jakarta
paket berangkat umroh ramadhan di Cipayung jakarta
biaya berangkat umrah ramadhan di Pasar Rebo jakarta
paket umrah ramadhan di Cilangkap jakarta
promo umrah awal tahun di Rawa Bunga jakarta
harga paket berangkat umroh januari di Bali Mester jakarta
paket promo umroh januari di Cipinang Cempedak jakarta
biaya berangkat umroh ramadhan di Utan Kayu Selatan jakarta
harga paket umrah januari di Cipayung jakarta
biaya paket berangkat umroh desember tangerang
harga paket berangkat umroh februari di Pekayon jakarta
paket promo berangkat umrah mei di Rawa Terate jakarta
harga berangkat umrah ramadhan bekasi utara
harga paket berangkat umroh desember di Ciracas jakarta
paket promo umrah januari di Halim Perdanakusuma jakarta
paket promo berangkat umroh ramadhan bekasi selatan
harga paket berangkat umrah desember di Kampung Gedong,Cijantung jakarta
paket umroh april di Ciracas jakarta
biaya paket umroh desember di Kramat Jati jakarta
harga berangkat umroh april di Matraman jakarta
biaya umroh januari di Kayu Manis jakarta
harga umrah februari di Kebon Pala jakarta
biaya berangkat umroh juni di Susukan jakarta
harga berangkat umrah ramadhan di Kampung Baru jakarta
biaya umroh januari bogor
harga paket umroh akhir tahun di Kelapa Dua Wetan jakarta