PAKET UMROH BULAN FEBRUARI MARET APRIL MEI 2018




Artikel lainnya »

Kali ini admin akan membagikan artikel mengenai Contoh Karya Ilmiah/Makalah tentang Efek Rumah Kaca. Semoga artikel ini, dapat di gunakan dengan sebaik-baiknya. Dan semoga artikel ini dapat membantu mengerjakan Tugas Sekolah atau Kuliah teman-teman semuanya.
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
 
 
A.    Latar Belakang
       Sejak jaman purbakala sampai sekarang,manusia mengalami perubahan yang sangat pesat seiring berjalannya waktu,ilmu pengetahuan juga ikut berkembang.Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang sangat sempurna mempunyai tugas untuk menjaga dan tetap melestarikan alam agar tidak punah.
        Keadaan permukaan bumi saat ini mengalami peningkatan suhu yang tidak seperti biasanya yang terjadi selama 100 tahun terakhir ini,salah satu penyebabnya adalah rumah kaca yang biasanya di gunakan untuk mengembangkan bunga,buah dan lain sebagainya,rumah kaca ini melindungi tanaman dari panas dan dingin secara berlebih sehingga banyak industri - industri menggunakan metode ini untuk meningkatkan penghasilannya.Tanpa mereka pikirkan seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari perbuatannya itu.
       Pemanasan global atau lebih sering disebut Global Warming tengah jadi buah bibir masyarakat saat ini khususnya di Indonesia dikarenakan di Indonesia juga mengalami perubahan iklim yang tidak menentu akibat dari pemanasan global tersebut.Banyak  dampak yang akan ditimbulkan oleh terjadinya pemanasan global.
 
       Oleh karena itu dalam karya ilmiah ini akan dibahas lebih lanjut tentang adakah efek yang di berikan oleh rumah kaca terhadap pemanasan global ? Apakah dampak yang ditimbulkan dari terjadinya pemanasan global ? Hasil- hasil penelitian yang dilakukan para ilmuwan tentang efek rumah kaca terhadap pemanasan global? Dan upaya apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengurangi terjadinya pemanasan global ini.Dengan mencari Informasi dan data-data yang dapat dipercaya melalui media seperti buku dan inernet.
                                                                                        
B.Rumusan Masalah
 
        Adapun rumasan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1.      Adakah efek dari rumah kaca terhadap pemanasan global ?
2.      Apa penyebab rumah kaca dapat mengakibatkan pemanasan global?
3.      Upaya apa yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya pemanasan global di Bumi ?
 
C. Tujuan Penelitian
       Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu mencakup :
1.        Untuk mengetahui apakah ada efek dari rumah kaca terhadap pemanasan global.
2.        Untuk mengetahui penyebab dari efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pamanasan global.
3.        Untuk mengetahui upaya apa yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya pemasan global di Bumi.
 
D. Manfaat Penelitian
 
1.        Bagi penulis,penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai semua yang berhubungan dengan efek rumah kaca terhadap pemanasan global.
2.        Bagi Pembaca,penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai efek rumah kaca terhadap pemananasan global.
3.         Bagi Para Ilmuwan yang meneliti,Penelitian ini dapat memberikan tambahan data-data atau pernyataan-pernyataan mengenai efek rumah kaca terhadap pemanasan global.
 
 
BAB II
LANDASAN TEORI
 
A. Pengertian-pengertian
     1. Efek Rumah Kaca
       Efek rumah kaca adalah proses penghangatan bumi karena adanya penyerapan sinar infra merah.Tanpa adanya efek ini suhu bumi akan turun sekitar 30° C.Sinar yang datang ke bumi sebanya 30 % dipantulkan dan sisanya digunakan untuk menghangatkan daratan,lautan dan atmosfer.efek rumah kaca terjadi karena bumi relatif transparan terhadap sinar tampak,namun sangat menyerap sinar infra merah sehingga bumi akan menghangat karena adanya penyerapan energi tersebut. Efek rumah kaca juga merupakan efek alamiah untuk menjaga temperature  permukaan Bumi pada suhu normal sekitar 30°C,atau kalau tidak ada ,maka tentu saja tidak akan ada kehidupan dimuka Bumi ini.
        
2.Pemanasan Global
        Pemanasan global yaitu bertambah panasnya atmosfer Bumi serta samudra selama beberapa dekade terakhir.Menurut penelitian suhu bumidi ketahui meningkat 0,6 kurang lebih 0,2 °C selama 20 Abad terakhir.
(Nur Farida 2009 :53) Mengatakan, bahwa pemanasan global yaitu disebut juga global warming ,istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan fenomena peningkatan suhu rata – rata atmosfer Bumi.Peningkatan suhu Bumi ini dianggap akan secara permanen mengubah iklim Bumi selamanya.
 
B. Dampak dari terjadinya Pemanasan Global
 
 
Editor by : OSHIMURA

- See more at: http://pbsstainmetro.blogspot.com/2014/02/contoh-karya-ilmiah-tentang-bahaya-efek.html#sthash.8nHxf7N3.dpuf

CONTOH KARYA ILMIAH TENTANG EFEK RUMAH KACA

Selama ini Anda telah mengenal kafein identik dengan kopi. Padahal kafein sendiri adalah senyawa kimia yang telah ditemukan di dalam suatu jenis makanan atau minuman tertentu, termasuk terdapat di dalam kopi.

Banyak kontroversi yang berkembang tentang baik dan buruknya kafein untuk kesehatan. Oleh karena itu sebelum mengonsumsinya, inilah hal yang harus Anda ketahui tentang kafein :

Kebutuhan kafein bervariasi
Setiap orang telah memiliki kondisi kesehatan dan kebutuhan nutrisi yang berbeda. Begitu pula dengan kebutuhan akan kafein. Terutama kebutuhan akan kafein didasarkan pada keadaan metabolisme tubuh, apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan atau tidak, tingkat insomnia, dan apakah Anda sedang mengandung atau tidak.

Kopi berkafein dan non kafein
Setiap kopi telah mengandung kafein. Namun ada jenis kopi decaf, yaitu kopi yang sudah dihilangkan sebagian besar kafeinnya.

Kafein di dalam kopi
Setiap jenis dan olahan kopi juga mengandung kafein yang sangat berbeda-beda di dalamnya. Secangkir kopi hitam telah memiliki kandungan kafein yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kopi susu atau kopi instan lainnya.

Kafein di dalam minuman berenergi
kafein yang ada di dalam kopi bermanfaat untuk dapat membuat tubuh Anda lebih awas. Namun sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa kafein yang ada di dalam minuman berenergi justru dapat meningkatkan berat badan sebanyak 29%.

Kafein mengurangi risiko alzheimer
Dalam sebuah penelitian yang berbasis di Florida, peneliti menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi kopi sebanyak 3 cangkir sehari mampu terhindar dari risiko penyakit alzheimer.

Kafein menyembuhkan peradangan
Penelitian lain yang dilakukan di University of Illinois menunjukkan bahwa kafein mampu menghalangi peradangan otak yang dapat menyebabkan penyakit otak.

Efek kafein pada kehamilan
Ibu hamil sebaiknya mengurangi konsumsi kafein. Sebab beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi kafein secara berlebihan akan berisiko melahirkan bayi prematur, termasuk gangguan pertumbuhan buah hati di masa mendatang.

Pengaruh kafein pada pria dan wanita
Kafein mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pada pria dan wanita. Konsumsi kafein akan menurunkan risiko diabetes pada pria, sementara pada wanita justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Menghindarkan kanker
Kafein juga mampu memerangi kanker. Wanita yang minum 4 cangkir kopi sehari akan mengalami penurunan risiko kanker endometrium sebanyak 25%.

Itulah beberapa hal tentang kafein yang selama ini jarang terungkap. Kafein dapat bermanfaat positif dan negatif pada tubuh Anda tergantung bagaimana Anda mengonsumsinya.

Ternyata, kafein menyimpan 9 rahasia kesehatan tersembunyi ini!

GRESIK, Saco-Indonesia.com — Kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) dianjurkan untuk tidak difotokopi sebab di dalam kartu identitas kependudukan itu tertanam cip.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman mengatakan, kerusakan cip yang tertanam di dalam e-KTP bisa saja terjadi karena proses fotokopi.

Ia menyarankan, kartu itu tak usah difotokopi melainkan setiap institusi pelayanan harus mempunyai card reader. "Hanya cukup memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), bisa sebagai kunci akses data," kata Irman, di Gresik. Jawa Timur, Rabu (1/5/2013).

NIK itu sifatnya personal dan tertera pada setiap keping e-KTP. "Jadi jangan khawatir ada data ganda karena pasti kelihatan. Sistem kami langsung menolak bila seseorang pernah melakukan perekaman data," tutur Irman.

Berdasarkan perekaman e-KTP selama ini, pihak Direktorat  Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri telah membersihkan sekitar 7 juta NIK ganda dari 497 Kabupaten/kota seluruh Indonesia. Irman juga mengimbau agar tim e-KTP semua kabupaten/kota segera melakukan perekaman, terutama para kaum urban.

Irman menegaskan, mulai 1 Januari 2014, KTP lama tidak berlaku lagi. Proses perekaman sudah harus tuntas paling lambat Juli 2013. Sampai Oktober akan tercetak semua hasilnya. Sampai Desember 2013 semua keping e-KTP sudah didistribusikan ke setiap wajib KTP se-Indonesia.

Irman menyatakan, fungsi e-KTP banyak sekali, termasuk untuk pelayanan di kepolisian dan perbankan. "Saat ini banyak institusi yang sudah mengajukan untuk mengintegrasikan data e-KTP," ujarnya.

 
Editor :Maulana Lee
Sumber:KOMPAS.com
Fisik KTP Elektronik Jangan Difotokopi, Cip Bisa Rusak

Makanan Untuk Diet Sehat Alami

Apakah Anda termasuk orang yang sangat membutuhkan makanan diet? Sekarang ini blogcaradiet akan telah memberikan informasi tentang makanan untuk diet sehat dan alami setelah sebelumnya kita membahas tentang cara diet alami menurunkan tensi darah. Banyak orang ingin menurunkan berat badan mereka, baik laki-laki atau perempuan. Memiliki tubuh yang bagus, baik di luar atau di dalam sangat penting bagi manusia. Setiap orang bisa mendapatkan penampilan yang baik jika mereka telah mempunyai keinginan yang kuat. Karena alasan di atas, banyak orang ingin mendapatkan bentuk tubuh langsing dan ideal. Kemudian, tubuh ideal dipengaruhi untuk kesehatan juga. Orang yang telah memiliki kelebihan berat badan sangatlah berisiko di hampiri bermacam-macam penyakit diantaranya: serangan jantung, jantung koroner, stroke, diabetes, dan sebagainya.

MAKANAN UNTUK DIET SEHAT ALAMI

Berikut ini adalah, 50 pelajaran berharga dari Rukun Islam Kelima untuk kehidupan manusia. Semoga Alloh memberikan taufiq, bantuan, dan menunjuki kebenaran pada kami dalam menyelesaikan tulisan ini.

1. Pendidikan untuk mentauhidkan Alloh, baik dalam ucapan maupun amalan, hal ini terlihat jelas dalam beberapa amalan berikut ini:

a. Bacaan talbiyah, yang disebut juga dengan kalimat tauhid: Labbaikallohumma labbaik…

b. Dimasukkannya dalam talbiyah kata: la syarika lak (tiada sekutu bagi-Mu).

c. Kata la syarika lak yang diulangi dua kali dalam bacaan talbiyah, ini menunjukkan adanya penekanan dalam hal tauhid.

d. Kata-kata: “Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk”, maksudnya adalah: “Sesungguhnya semua pujian, segala nikmat, dan seluruh kekuasaan hanya bagi-Mu ya Alloh”, dan ini juga mengandung nilai tauhid.

e. Larangan thowaf di selain Ka’bah, itu artinya kita dilarang untuk thowaf di arofah, di jamarot, di pemakaman, tempat keramat, tempat bersejarah, dll. Ini semua bukti keyakinan kita, bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh, dan itulah diantara bentuk nyata mentauhidkan Alloh.

2. Pendidikan untuk banyak memuji Alloh. Hal ini tampak pada kata hamdalah yang ada dalam talbiyah. Meski saat datang ke tanah suci, jamaah haji sedang dalam keadaan tertimpa musibah, didera cobaan, sakit, miskin, dan terasingkan… mereka semua tetap memuji Alloh, seakan-akan mereka dalam keadaan lapang, sehat, dan kuat… Sungguh tak diragukan lagi, memuji Alloh dianjurkan bagi setiap muslim, baik di saat suka, maupun duka.

3. Pendidikan untuk selalu membasahi lisan dengan dzikir, ini tampak pada:

a. Disunnahkannya membaca talbiyah hingga sampai di masjidil harom, atau sampai melihat ka’bah, atau sampai memulai thowaf. Meski para ulama berbeda pendapat tentang kapan harus mengakhiri talbiyah, tapi semua pendapat itu mengisyaratkan anjuran untuk memperbanyak talbiyah.

b. Saat thowaf, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, atau dzikir, atau pujian pada Alloh, dan semuanya merupakan bentuk dzikir.

c. Dalam sai juga demikian.

d. Doa di Hari Arofah yang berupa dzikir: “la ilaaha illallohu wahdahu….

e. Hari-hari di mina adalah hari untuk makan, minum, dan berdzikir.

f. Disyariatkannya melempar jumroh adalah untuk berdzikir mengingat-Nya.

g. Disunnahkan untuk membaca takbir dalam setiap lemparan kerikilnya.

Dan masih banyak lagi tempat dan kesempatan lain untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji ini. Itu semua mengajarkan pada seorang muslim agar lisannya selalu basah dengan bacaan dzikir.

4. Mengajarkan kita untuk mengingat mati, yaitu dari pengenaan kain kafan dalam pelaksanaannya. Dengan ini, seorang mukmin akan teringat dan merasakan bagaimana akhir hidupnya, sehingga hal itu akan mempengaruhi hati dan amalannya.

5. Mengajarkan manusia untuk zuhud pada dunia dan kenikmatannya. Baik dia seorang yang kaya, presiden, atau menteri, ia tidak akan mengenakan kecuali baju putih itu. Seandainya ia ingin mengenakan baju lain yang dimilikinya, tetap saja tidak diperbolehkan baginya.

6- Mendidik manusia untuk qona’ah, sekaligus memberi pelajaran bahwa kekayaan yang hakiki adalah pada sifat qonaah itu. Oleh karena itu, para jama’ah haji dilatih untuk cukup hanya dengan mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, cukup dengan tidur sekedar bisa menghilangkan lelah dan malas, dan cukup dengan makan sekedar bisa menopang tubuhnya.

7. Mengajarkan pada manusia, bahwa kekayaan duniawi tidaklah memiliki kedudukan di sisi Alloh bila dilihat dari dzatnya. Oleh karena itu para jamaah haji sama-sama dalam pakaian dan amalannya. Adapun kekayaan, kefakiran, kedudukan, dan tempat tinggal mereka, sungguh hal itu tidak punya pengaruh apa-apa. Yang mempengaruhi mereka hanyalah keikhlasan dan mengikuti sunnah dalam beramal. Sungguh demi Alloh, betapa banyak para masakin di tempat itu yang lebih mulia, dari mereka yang kaya dan memiliki kedudukan yang tinggi!!.

8. Mengajarkan pada manusia dasar Persatuan Islam, hal ini tampak dari seragamnya perbuatan, amalan, tempat, dan waktu mereka.

9. Mengajarkan pada manusia untuk sabar dalam menghadapi kemaksiatan, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:

a. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang ketika dalam keadaan ihrom.

b. Sabar untuk tidak melakukan kefasikan, sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa berkewajiban menunaikan ibadah haji dalam bulan-bulan haji, maka janganlah ia berbuat fasik dan keji”. Sehingga ketika ia pulang ke negerinya, ia telah terdidik dan terbiasa sabar dari segala kemaksiatan, sebagaimana ia sabar menghadapinya pada hari-hari itu.

10. Mengajarkan pada muslim untuk sabar dalam ketaatan. Dan barangsiapa mau merenungi masalah-masalah tentang haji, tentu ia akan menemukan makna ini. Hal itu terlihat diantaranya:

Ketika jama’ah haji ingin bersegera kembali ke negerinya, ia tidak diperkenankan sebelum tanggal 12 dzulhijjah.

Pulangnya juga harus setelah melempar dan thowaf wada’, meski ia berasal dari negeri yang jauh, tetap saja ia harus menjalani semua amalan ketaatan ini, baru setelah itu diperkenankan untuk pulang.

11. Mengajarkan pada manusia, agar menyiapkan diri sebelum melakukan ketaatan, oleh karena itu disunnahkan bagi yang ingin memulai ihrom, agar mandi, membersihkan diri, memotong kuku, membersihkan rambut kemaluan dan ketiaknya, dan memarfumi badannya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula ketika sudah tahallul awal dan akan melakukan thowaf ifadloh, disunnahkan baginya memakai parfum, sebagaimana dicontohkan oleh beliau. Tak diragukan lagi, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap jiwa ketika menjalani ibadahnya, sekaligus menambah kekhusyu’annya.

12. Mengajarkan pada manusia untuk ikhlas dan tulus hati, yang keduanya adalah puncak amalan hati, dengan keduanya sebuah amal akan diterima dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

13. Mengajarkan pada manusia untuk tawakkal dan menyerahkan urusannya hanya pada Alloh semata, terutama dalam menunaikan dan memudahkan ibadahnya. Lihatlah bagaimana seorang muslim yang datang dengan meninggalkan keluarga, anak, dan hartanya, tentunya ia akan menyerahkan urusan harta dan sanak keluarganya pada Tuhannya, ia juga tentunya banyak meminta permohonan pada-Nya dalam menjalani beratnya perjalanan, terutama mereka yang datang dari negeri jauh.

14. mengajarkan manusia untuk bertawakkal yang benar, tentunya tawakkal yang tidak mengesampingkan usaha lahiriyah yang diperintahkan untuk mencari rizki, oleh karenanya Alloh berfirman: “Tidak ada masalah jika kalian ingin mengharapkan kemurahan (rizki) dari Tuhan kalian”. Ayat ini turun pada mereka yang menyangka bahwa makna tawakkal adalah dengan meninggalkan berdagang dalam haji.

15. Mengajarkan pada manusia untuk mewujudkan semua amalan-amalan hati. Sungguh tiada ibadah yang tampak padanya semua atau sebagian besar amalan hati seperti dalam haji ini. Terkumpul dalam ibadah haji ini amalan ikhlas, ketulusan hati, roja’, tawakkal, zuhud, waro’, muhasabah, keyakinan… dll”

16. Mendidik manusia untuk menundukkan hati dari apa yang diingininya, selama hal itu dilarang oleh syariat. Parfum, tutup kepala, dan semua larangan ihrom haruslah ditinggalkan oleh jama’ah haji padahal hatinya menginginkannya. Ia meninggalkannya bukan karena apa-apa, tapi karena syariat melarangnya.

17. mengajarkan manusia untuk taat dengan aturan dan batasan syariat. Hal ini nampak dalam aturan miqot dan batasannya, aturan waktu melempar, aturan waktu meninggalkan arofah, dll.

18. Mengajarkan pada manusia untuk membuka pintu qiyas yang shohih. Pelajaran berharga ini, bisa kita ambil dari ucapan Umar r.a. pada penduduk negeri Irak ketika mereka mengatakan: “Sungguh dua miqot itu, tidak pas dengan jalan kami”, maka Umar r.a. mengatakan: “Ambillah tempat yang sejajar dengannya di jalan kalian” (muttafaqun alaih).

Dengan ini, seorang muslim tahu bahwa aturan syariat bukanlah aturan yang kaku, dan tak bisa dirubah sama sekali. Tapi terbuka juga dalam aturan syariat ini pintu qiyas, tentunya hal ini hanya dikhususkan bagi mereka yang memiliki syarat dan ketentuan dalam ber-ijtihad.

19. Mengajarkan pada manusia tentang rukun kedua diterimanya suatu amalan, yakni mengikuti tuntunan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. Oleh karena itu, beliau menyabdakan: “Ambillah cara manasik kalian dariku!” (muttafaqun alaih). Beliau juga mengatakan dalam kesempatan lain: “Melemparlah dengan kerikil yang seperti ini!”. Begitu juga perkataan Umar r.a. pada hajar aswad: “Aku tahu, kau ini hanyalah sebuah batu, yang takkan mampu memberi manfaat atau mendatangkan bahaya, andai saja aku tidak melihat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menciummu, tentunya aku takkan menciummu” (muttafaqun alaih).

Dengan itu semua, seorang muslim akan lulus dari madrasah hajinya, dalam keadaan telah terbiasa mengikuti tuntunan Nabinya -shollallohu alaihi wasallam-, baik dalam hal yang besar, maupun yang paling kecil sekalipun.

20. Memberikan pelajaran akan mudahnya ajaran syariat, sehingga keyakinan ini bisa tertanam dalam hatinya dan terasa ringan ketika menerapkannya. Hal ini, bisa terlihat dalam amalan-amalan berikut ini:

a. Letak miqot yang menyebar dan terpisah-pisah, hingga memudahkan para jama’ah haji dalam memulai ihromnya.

b. Cara manasik haji yang bermacam-macam.

c. Adanya hukum khusus bagi para jama’ah yang lemah dan lanjut usia.

21. Mendidik manusia, agar memperhatikan adanya perbedaan diantara mereka. Sungguh tidaklah mereka berada pada derajat yang sama. Hal ini tampak pada adanya cara manasik haji yang bermacam-macam. Diantara mereka ada yang tidak mampu menunaikan hajinya, kecuali dengan cara ifrod. Diantara mereka ada yang hanya mampu melakukannya dengan qiron dan hal itu menjadi lebih mudah dan lebih utama baginya. Dan diantara mereka ada yang bisa menunaikan manasik dengan cara yang paling utama, yakni tamattu’.

Sungguh ini menunjukkan tingginya perhatian syariat pada keadaan, kemampuan, masalah, dan perbedaan mereka. Sekaligus merupakan bantahan bagi orang yang menuntut bersatunya umat dalam segala hal, baik dalam amalan maupun dalam hal kepentingannya.

22. Mengajari manusia bagaimana fikhul khilaf dalam kehidupan nyata, hal itu tampak pada hal-hal berikut ini:

a. Perbedaan para jama’ah dalam dalam memilih cara manasiknya.

b. Perbedaan para jama’ah dalam menjalani amalan yang dilakukan pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah.

c. Perbedaan para jama’ah dalam hal dzikir yang dibaca ketika meninggalkan Mina menuju Arofah. Sebagaimana disebutkan, para sahabat dulu ada yang bertalbiyah, ada juga yang bertakbir.

d. Perbedaan waktu bolehnya beranjak dari Muzdalifah ke Mina, melihat keadaan masing-masing, bagi yang lemah ada waktu tersendiri, dan bagi yang kuat ada waktu tersendiri.

e. Perbedaan para jama’ah dalam memilih nafar awal atau nafar tsani untuk ibadah hajinya.

f. Perbedaan para jama’ah dalam memilih menggundul atau memendekkan rambutnya ketika hendak bertahallul.

Semua contoh di atas, mengajari para jama’ah bagaimana menyikapi perbedaan dan individunya. Sungguh, tidak ada nukilan tentang timbulnya cekcok atau tuduhan antara satu sahabat dengan sahabat lainnya, karena sebab memilih cara manasik tertentu, meski pilihan mereka adalah cara manasik yang kurang utama.

23. Mengajari manusia, bahwa tidak semua yang diterangkan oleh syari’at itu mungkin dicerna oleh akal, tujuannya adalah agar syariat tetap menjadi pemegang kendali hukum di atas akal, bukan di bawahnya.

Lihatlah sebagai contoh sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Perbanyaklah haji dan umroh, karena keduanya bisa menghilangkan kefakiran sebagaimana mampunya tengku pembakar menghilangkan karatnya besi. (Diriwayatkan oleh para pengarang kitab sunan, dan dishohihkan oleh Albani)…

Padahal jika di nalar dengan akal, memperbanyak haji dan umroh itu, akan mengundang banyak kebutuhan dan tentunya akan banyak menghabiskan uang, tapi syariat malah mengatakan seperti itu. Sungguh akal tidak akan bisa menerangkan secara rasional, bahwa orang yang memperbanyak haji dan umroh akan menghilangkan kefakiran, Alloh lah yang tahu akan hakikat di balik itu semua.

Dengan ini, seorang muslim akan terdidik untuk selalu menghubungkan dirinya dengan Alloh dan ilmu-Nya, sekaligus melatihnya untuk berjiwa besar dan mau mengakui kelemahan dan kekurangannya.

24. Mengajari manusia, bahwa yang paling afdlol, adalah yang sesuai dg syariat, bukan yang lebih berat dan susah, misalnya: Memulai ihrom dari miqot, lebih utama dari pada memulainya dari tempat sebelumnya, meski itu lebih berat dan susah. Sehingga dengan ini, seorang muslim terdidik untuk memuliakan syariat dan memperhatikannya.

25. Melatih manusia, untuk terbiasa tertib dan taat aturan. Budaya tersebut bukanlah keistimewaan negeri kafir, sebaliknya itu merupakah nilai Islam yang telah kita abaikan. Nilai ini tampak dari hal-hal berikut:

a. Harusnya tertib dalam menjalani amalan-amalan Umroh.

b. Sunnahnya tertib dalam menjalankan amalan-amalan pada hari ke-10 bulan dzulhijjah.

c. Harusnya tertib ketika melempar jamarot.
Tapi yang sungguh mengherankan, di zaman kita ini, justru ketertiban itu malah dijadikan cemoohan!…

26. Mendidik manusia untuk menekan syahwatnya secara khusus, oleh karena itu akad nikah menjadi larangan saat dalam keadaan ihrom, bahkan sampai rofats[1] dan jima’ pun dilarang. Tidak diragukan, ini mendidik seorang muslim agar waspada dan hati-hati dengan syahwat ini.

27. Mendidik manusia untuk menunaikan ibadahnya sesempurna dan sebaik mungkin, oleh karena itu Alloh berfirman: “Barangsiapa yang berkewajiban haji, maka janganlah ia melakukan rofats, kefasikan, dan debat (kusir) dalam ibadah hajinya”, beliau -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Haji yang mabrur itu, tiada balasan lain baginya kecuali surga” (Muttafaqun Alaih). Ini semua mendidik muslim untuk menjaga kualitas ibadahnya.

28. Mendidik manusia untuk menyesuaikan dirinya saat keadaan dan kebiasaan lingkungannya berubah. Tentunya sepanjang tahun jama’ah haji terbiasa melakukan sesuatu di negaranya, lalu ketika datang haji, ia harus memaksa dirinya untuk menyesuaikan dengan waktu dan jam yang sedang ia jalani. Inilah maksud dari arahan Umar r.a. saat mengatakan: “Prihatinlah, karena nikmat-nikmat yang ada itu tidak akan langgeng selamanya”.

29. Mendidik manusia untuk banyak berdoa. Dalam manasik haji, disunnahkan bagi muslim untuk berdoa pada Tuhannya, di kebanyakan tempat yang dikunjunginya, misalnya:

a. Saat thowaf.

b. Saat sholat sunat 2 rokaat setelah thowaf.

c. Saat minum air zamzam.

d. Saat naik ke bukit Shofa dan Marwa.

e. Saat di tengah-tengah pelaksanaan sa’i.

f. Saat Hari Arofah

g. Setelah terbit fajarnya hari nahr (tanggal 10 dzulhijjah) hingga langit menguning.

h. Setelah melempar dua jamarot, Shughro dan Wustho.

Dan tempat-tempat lainnya, itu semua mendidik seorang muslim untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhannya dalam doa dan selalu kembali pada-Nya.

30. Mendidik muslim untuk ta’abbud dengan sifat maha mendengar dan maha melihatnya Alloh ta’ala, sebagaimana madzhabnya Ahlus sunnah wal jama’ah dalam menetapkan sifat dan maknanya, ini tampak dalam hal-hal berikut ini:

a. Banyaknya bahasa yang beraneka ragam, suara yang berbeda-beda, kebutuhan yang bermacam-macam, pun begitu, Dia yang maha suci tetap mampu mendengarkan doanya ini, dan mengabulkan doanya itu, serta mengetahui seluruh bahasa mereka.

b. Dia maha tahu niat para jama’ah haji yang berbeda-beda, dan seberapa tulus dan ikhlasnya mereka, meski jumlah mereka sangat banyak.

31. Melatih manusia, untuk tidak menganggap remeh apapun yang diharamkan Alloh, oleh karena itulah dalam ibadah haji ini, ada beberapa kalimat yang diulang-ulang, diantaranya:

a. Tanah haram.

b. Bulan haram.

c. Larangan-larangan ketika sedang ihrom.

Dengan begitu seorang muslim terlatih untuk mengagungkan apa yang diharamkan oleh Alloh ta’ala dari sekian banyak sesuatu yang diharamkannya.

32. Melatih manusia untuk meneguhkan prinsip “loyal pada kaum muslimin dan berlepas diri dari kaum kafirin”. Oleh karena itulah disunnahkan dalam sholat sunat setelah thowaf untuk membaca surat alkafirun, yang didalamnya menekankan dan menuangkan dasar prinsip ini.

Termasuk diantara bukti paling nampak dari petunjuk menyelisihi kaum musyrikin adalah, beranjaknya para jama’ah haji (dari Muzdalifah) sebelum terbitnya matahari.

33. Mendidik manusia untuk tenang, tertib, dan mempraktekkan prinsip itsar (mendahulukan orang lain dalam hal duniawi). Oleh karena itulah dahulu Rosul -shollallohu alaihi wasallam- ketika meninggalkan Arofah menyabdakan: “tenang dan tenanglah”, karena saat itu merupakan momen yang biasanya rame dan memungkinkan terjadinya saling menyakiti antara kaum muslimin.

Sifat waqor dan tenang adalah sifat yang selayaknya melekat pada diri seorang muslim, sebagaimana Alloh memberikan sifat itu pada mereka dalam kitab-Nya: “yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan sopan”

34. Mendidik manusia untuk menyatukan kata, meski keadaan dan cara manasik mereka berbeda-beda. Ini merupakan dasar yang agung, dan ditunjukkan dalam banyak nash syariat dan juga tampak dari keadaan para sahabat -rodliallohu anhum-.

35. Melatih manusia untuk mengingat hari kiamat, yakni dengan banyaknya orang yang berkumpul saat itu, bahkan pada hari kiamat nanti, Alloh akan mengumpulkan manusia dari awal hingga akhir penciptaan. Tak diragukan lagi, dengan mengingat hari kiamat, hati seorang muslim akan hidup dan memiliki pengaruh besar dalam kekhusyu’an dan ibadahnya.

36. Mendidik manusia untuk memperhatikan dan menghargai waktu. Hari arofah adalah kesempatan yang tak ada gantinya bila telah hilang, hari-hari tasyriq adalah hari-hari yang diperuntukkan untuk berdzikir (mengingat Alloh), dan di 10 hari pertama bulan dzul hijjah amalan ibadah dilipat-gandakan pahalanya, itu semua melatih seorang muslim untuk memanfaatkan waktunya untuk apapun yang bermanfaat baginya.

37. Mendidik manusia untuk menjaga ukhuwwah imaniyyah, itu tampak dari bertemunya raga, yang akan menjadikan berkumpulnya hati, dan tentunya akan terlihat pengaruh pertalian persaudaraan itu dalam tingkah laku dan kehidupan sehari-hari.

38. Mengajari manusia untuk mewujudkan lahan yang riil untuk mendidik jiwa, misalnya:

a. Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk menjaga pandangan mata dari sesuatu yang diharamkan.

b. Haji adalah tempat untuk mendidik jiwa untuk itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan duniawi)

c. Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk memberi bantuan dan sedekah.

d. Haji adalah tempat mendidik jiwa untuk menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Sungguh haji merupakan pusat praktek nyata dan tempat pelatihan untuk menguji kepribadian seseorang.

39. Mendidik manusia untuk membuktikan taqwanya, karena tempat ketakwaan adalah hati, dan sebagian besar amalan haji itu bertumpu pada hati dengan derajat paling tinggi, oleh karena itulah Alloh menyebutkan redaksi takwa dalam ayat-ayat haji, Alloh berfirman: “Sempurnakanlah haji dan umroh itu untuk Alloh…” di akhir ayat disebutkan: “dan bertakwalah kalian pada Alloh!”… Dia juga berfirman: “Siapkanlah bekal (untuk haji), sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa”.

40. Mendidik manusia agar berakhlak mulia, yang merupakan sesuatu yang paling berat dalam timbangan amal di hari kiamat nanti, hal ini tampak dari firman-Nya: “Janganlah berdebat (kusir) dalam haji!”. Maka anjuran untuk meninggalkan debat merupakan pendidikan untuk berakhlak mulia. Hal itu juga tampak pada anjuran Nabi -shollallohu alaihi wasallam- kepada para sahabatnya untuk tetap tenang ketika meninggalkan Arofah.

41. Mendidik manusia untuk mencintai seluruh Nabi -alaihimus salam-, hal ini tampak dari:

Pemenuhan panggilannya Nabi Ibrohim ketika memanggil manusia untuk haji.

Menziarahi ka’bah yang dibangun olehnya bersama Ismail.

Dan sa’i di jalannya siti hajar ketika mencarikan air untuk Isma’il.

42. Mendidik manusia untuk menjalankan macam-macam ibadah, seperti: Thowaf, sa’i, sholat, mabit, melempar, menyembelih, menggundul, dll. Sehingga seorang muslim terdidik untuk tidak hanya terpaku dalam satu macam ibadah saja, tapi menjadikan agar ibadahnya bervariasi dan merasakan nikmatnya melakukan ibadah.

43. Mendidik manusia untuk mengagungkan Alloh, hal ini tampak dalam beberapa hal berikut:

a. Kepala yang di… dan digundul untuk mendekatkan diri dan bersimpuh kepada Alloh.

b. Hadyu yang disembelih untuk beribadah pada-Nya, dialirkan darahnya karena wajah-Nya, dan nama-Nya juga disebut ketika menyembelihnya.

44. Mendidik manusia untuk mencintai Alloh. Siapapun yang mau merenungi pemandangan jama’ah haji yang mencapai jutaan, dan merenungi bagaimana Alloh memberi mereka rizki, mengatur, menjaga, dan menanggung kebutuhan mereka, ini akan menuntunnya untuk mencintai-Nya. Dengan ini dan poin sebelum ini, akan terkumpul kecintaan dan pengagungan pada Alloh, dan inilah hakekat dari ibadah.

45. Mendidik manusia untuk mengetahui jasa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan para sahabatnya -rodliallohu anhum- dalam menyebarkan agama ke seluruh penjuru dunia. Ketika anda merenungi jumlah jama’ah haji yang sangat besar itu, mereka memiliki daerah, warna, dan bahasa yang beragam, tentu anda akan tahu jasa para pendahulu dalam menyebarkan agama Alloh ini. Lihatlah bagaimana ia bisa sampai ke negara-negara Asia Timur, Afrika, bahkan Eropa. Semoga Alloh membalas mereka dengan balasan yang paling baik atas tugas berat yang diembannya dengan sebaik-baiknya, dan semoga Alloh memgampuni kita atas kekurangan kita dalam meneruskannya, dan kita memohon kepada Alloh agar membantu kita dalam urusan ini.

46. Mendidik manusia untuk berusaha membuat jengkel kaum musyrikin, dengan cara apapun, oleh karena itulah beliau -shollallohu alaihi wasallam- menyariatkan roml ketika thowaf hanya untuk membuat jengkel kaum musyrikin saja, yakni saat mereka mengata-ngatai kaum muslimin ketika datang ke Mekah: “Mereka itu mendatangi kalian, dalam keadaan telah dilemahkan oleh Humma Yatsrib“.

47. Mendidik manusia agar merasakan pengaruh ibadah dalam kehidupan ini. Meski dengan banyaknya jama’ah haji, adanya keramaian, berdesakan, berat, dan lelah, tetap saja jiwa orang-orang itu lembut, dan jarang terjadi masalah, suara tinggi, dan saling marah. Sebabnya adalah -wallohu a’lam-, karena ibadah yang sedang mereka lakukan, mempengaruhi keadaan jiwa mereka, hingga merubahnya menjadi jiwa yang tinggi, yang tidak peduli dengan hal-hal yang remeh.

Beda halnya dengan pemandangan di pasar misalnya, banyak sekali terjadi jeritan, dan suara yang tinggi, banyak pula terjadi masalah dan hal-hal buruk lainnya. Itu semua memberikan pelajaran berharga bagi seorang muslim, tentang adanya perbedaan yang jelas terlihat antara dua keadaan itu.

48. Mendidik manusia untuk selalu sadar tanggung jawab. Ketika terjadi kesalahan dari para jama’ah haji -kadang sebagian kesalahannya dalam hal-hal yang diperkirakan semua orang tahu bahwa itu salah-, ini mendidik muslim untuk sadar tanggung-jawab yang dibebankan di pundaknya untuk memberitahu saudaranya, menyodorkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, dan menghilangkan kebodohan yang ada pada mereka. Penulis yakin inilah yang bisa memberi manfaat, bukan malah mencemooh atau menuduh yang bukan-bukan pada mereka yang salah.

49. Melatih manusia untuk berjihad, dengan adanya masyaqqoh, lelah, dan keinginan hati  yang tak dituruti. Oleh karena itulah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menamainya jihad, sebagaimana dalam sabdanya: “Bagi kalian (para wanita) ada jihad yang tanpa perang, yaitu haji dan umroh” (HR. Bukhori)

50. Mendidik manusia untuk bangga dengan agama dan keislamanya. Ini tampak dari keadaan setan di Hari Arofah, telah disebutkan dalam kitab Al-Muwaththo’ karya Imam Malik, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Tiada suatu haripun, yang saat itu setan terlihat paling kerdil, paling hina, dan paling marah, melebihi Hari Arofah” (dihasankan oleh Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh-). Hal ini juga tampak dari bagaimana Alloh membangga-banggakan hambanya yang sedang wukuf di Arofah di hadapan para malaikat, sebagaimana disebutkan dalam shohih muslim.

Baca Artikel Lainnya : TANDA-TANDA HAJI MABRUR

 

50 PELAJARAN PENTING DARI HAJI

Under Mr. Michelin’s leadership, which ended when he left the company in 2002, the Michelin Group became the world’s biggest tire maker, establishing a big presence in the United States and other major markets overseas.

François Michelin, Head of Tire Company, Dies at 88
Joseph Lechleider

Mr. Lechleider helped invent DSL technology, which enabled phone companies to offer high-speed web access over their infrastructure of copper wires.

Joseph Lechleider, a Father of the DSL Internet Technology, Dies at 82
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Judge Patterson helped to protect the rights of Attica inmates after the prison riot in 1971 and later served on the Federal District Court in Manhattan.

Robert Patterson Jr., Lawyer and Judge Who Fought for the Accused, Dies at 91

Since a white police officer, Darren Wilson fatally shot unarmed black teenager, Michael Brown, in a confrontation last August in Ferguson, Mo., there have been many other cases in which the police have shot and killed suspects, some of them unarmed. Mr. Brown's death set off protests throughout the country, pushing law enforcement into the spotlight and sparking a public debate on police tactics. Here is a selection of police shootings that have been reported by news organizations since Mr. Brown's death. In some cases, investigations are continuing.

Photo
 
 
The apartment complex northeast of Atlanta where Anthony Hill, 27, was fatally shot by a DeKalb County police officer. Credit Ben Gray/Atlanta Journal Constitution

Chamblee, Ga.
Fatal Police Shootings: Accounts Since Ferguson

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Ghostly Voices From Thomas Edison’s Dolls Can Now Be Heard

At the National Institutes of Health, Dr. Suzman’s signature accomplishment was the central role he played in creating a global network of surveys on aging.

Richard Suzman, 72, Dies; Researcher Influenced Global Surveys on Aging

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

Native American Actors Work to Overcome a Long-Documented Bias

WASHINGTON — A decade after emergency trailers meant to shelter Hurricane Katrina victims instead caused burning eyes, sore throats and other more serious ailments, the Environmental Protection Agency is on the verge of regulating the culprit: formaldehyde, a chemical that can be found in commonplace things like clothes and furniture.

But an unusual assortment of players, including furniture makers, the Chinese government, Republicans from states with a large base of furniture manufacturing and even some Democrats who championed early regulatory efforts, have questioned the E.P.A. proposal. The sustained opposition has held sway, as the agency is now preparing to ease key testing requirements before it releases the landmark federal health standard.

The E.P.A.’s five-year effort to adopt this rule offers another example of how industry opposition can delay and hamper attempts by the federal government to issue regulations, even to control substances known to be harmful to human health.

Continue reading the main story
 

Document: The Formaldehyde Fight

Formaldehyde is a known carcinogen that can also cause respiratory ailments like asthma, but the potential of long-term exposure to cause cancers like myeloid leukemia is less well understood.

The E.P.A.’s decision would be the first time that the federal government has regulated formaldehyde inside most American homes.

“The stakes are high for public health,” said Tom Neltner, senior adviser for regulatory affairs at the National Center for Healthy Housing, who has closely monitored the debate over the rules. “What we can’t have here is an outcome that fails to confront the health threat we all know exists.”

The proposal would not ban formaldehyde — commonly used as an ingredient in wood glue in furniture and flooring — but it would impose rules that prevent dangerous levels of the chemical’s vapors from those products, and would set testing standards to ensure that products sold in the United States comply with those limits. The debate has sharpened in the face of growing concern about the safety of formaldehyde-treated flooring imported from Asia, especially China.

What is certain is that a lot of money is at stake: American companies sell billions of dollars’ worth of wood products each year that contain formaldehyde, and some argue that the proposed regulation would impose unfair costs and restrictions.

Determined to block the agency’s rule as proposed, these industry players have turned to the White House, members of Congress and top E.P.A. officials, pressing them to roll back the testing requirements in particular, calling them redundant and too expensive.

“There are potentially over a million manufacturing jobs that will be impacted if the proposed rule is finalized without changes,” wrote Bill Perdue, the chief lobbyist at the American Home Furnishings Alliance, a leading critic of the testing requirements in the proposed regulation, in one letter to the E.P.A.

Industry opposition helped create an odd alignment of forces working to thwart the rule. The White House moved to strike out key aspects of the proposal. Subsequent appeals for more changes were voiced by players as varied as Senator Barbara Boxer, Democrat of California, and Senator Roger Wicker, Republican of Mississippi, as well as furniture industry lobbyists.

Hurricane Katrina in 2005 helped ignite the public debate over formaldehyde, after the deadly storm destroyed or damaged hundreds of thousands of homes along the Gulf of Mexico, forcing families into temporary trailers provided by the Federal Emergency Management Agency.

The displaced storm victims quickly began reporting respiratory problems, burning eyes and other issues, and tests then confirmed high levels of formaldehyde fumes leaking into the air inside the trailers, which in many cases had been hastily constructed.

Public health advocates petitioned the E.P.A. to issue limits on formaldehyde in building materials and furniture used in homes, given that limits already existed for exposure in workplaces. But three years after the storm, only California had issued such limits.

Industry groups like the American Chemistry Council have repeatedly challenged the science linking formaldehyde to cancer, a position championed by David Vitter, the Republican senator from Louisiana, who is a major recipient of chemical industry campaign contributions, and whom environmental groups have mockingly nicknamed “Senator Formaldehyde.”

Continue reading the main story

Formaldehyde in Laminate Flooring

In laminate flooring, formaldehyde is used as a bonding agent in the fiberboard (or other composite wood) core layer and may also be used in glues that bind layers together. Concerns were raised in March when certain laminate flooring imported from China was reported to contain levels of formaldehyde far exceeding the limit permitted by California.

Typical

laminate

flooring

CLEAR FINISH LAYER

Often made of melamine resin

PATTERN LAYER

Paper printed to resemble wood,

or a thin wood veneer

GLUE

Layers may be bound using

formaldehyde-based glues

CORE LAYER

Fiberboard or other

composite, formed using

formaldehyde-based adhesives

BASE LAYER

Moisture-resistant vapor barrier

What is formaldehyde?

Formaldehyde is a common chemical used in many industrial and household products as an adhesive, bonding agent or preservative. It is classified as a volatile organic compound. The term volatile means that, at room temperature, formaldehyde will vaporize, or become a gas. Products made with formaldehyde tend to release this gas into the air. If breathed in large quantities, it may cause health problems.

WHERE IT IS COMMONLY FOUND

POTENTIAL HEALTH RISKS

Pressed-wood and composite wood products

Wallpaper and paints

Spray foam insulation used in construction

Commercial wood floor finishes

Crease-resistant fabrics

In cigarette smoke, or in the fumes from combustion of other materials, including wood, oil and gasoline.

Exposure to formaldehyde in sufficient amounts may cause eye, throat or skin irritation, allergic reactions, and respiratory problems like coughing, wheezing or asthma.

Long-term exposure to high levels has been associated with cancer in humans and laboratory animals.

Exposure to formaldehyde may affect some people more severely than others.

By 2010, public health advocates and some industry groups secured bipartisan support in Congress for legislation that ordered the E.P.A. to issue federal rules that largely mirrored California’s restrictions. At the time, concerns were rising over the growing number of lower-priced furniture imports from Asia that might include contaminated products, while also hurting sales of American-made products.

Maneuvering began almost immediately after the E.P.A. prepared draft rules to formally enact the new standards.

White House records show at least five meetings in mid-2012 with industry executives — kitchen cabinet makers, chemical manufacturers, furniture trade associations and their lobbyists, like Brock R. Landry, of the Venable law firm. These parties, along with Senator Vitter’s office, appealed to top administration officials, asking them to intervene to roll back the E.P.A. proposal.

The White House Office of Management and Budget, which reviews major federal regulations before they are adopted, apparently agreed. After the White House review, the E.P.A. “redlined” many of the estimates of the monetary benefits that would be gained by reductions in related health ailments, like asthma and fertility issues, documents reviewed by The New York Times show.

As a result, the estimated benefit of the proposed rule dropped to $48 million a year, from as much as $278 million a year. The much-reduced amount deeply weakened the agency’s justification for the sometimes costly new testing that would be required under the new rules, a federal official involved in the effort said.

“It’s a redlining blood bath,” said Lisa Heinzerling, a Georgetown University Law School professor and a former E.P.A. official, using the Washington phrase to describe when language is stricken from a proposed rule. “Almost the entire discussion of these potential benefits was excised.”

Senator Vitter’s staff was pleased.

“That’s a huge difference,” said Luke Bolar, a spokesman for Mr. Vitter, of the reduced estimated financial benefits, saying the change was “clearly highlighting more mismanagement” at the E.P.A.

Advertisement

The review’s outcome galvanized opponents in the furniture industry. They then targeted a provision that mandated new testing of laminated wood, a cheaper alternative to hardwood. (The California standard on which the law was based did not require such testing.)

But E.P.A. scientists had concluded that these laminate products — millions of which are sold annually in the United States — posed a particular risk. They said that when thin layers of wood, also known as laminate or veneer, are added to furniture or flooring in the final stages of manufacturing, the resulting product can generate dangerous levels of fumes from often-used formaldehyde-based glues.

Industry executives, outraged by what they considered an unnecessary and financially burdensome level of testing, turned every lever within reach to get the requirement removed. It would be particularly onerous, they argued, for small manufacturers that would have to repeatedly interrupt their work to do expensive new testing. The E.P.A. estimated that the expanded requirements for laminate products would cost the furniture industry tens of millions of dollars annually, while the industry said that the proposed rule over all would cost its 7,000 American manufacturing facilities over $200 million each year.

“A lot of people don’t seem to appreciate what a lot of these requirements do to a small operation,” said Dick Titus, executive vice president of the Kitchen Cabinet Manufacturers Association, whose members are predominantly small businesses. “A 10-person shop, for example, just really isn’t equipped to handle that type of thing.”

Photo
 
Becky Gillette wants strong regulation of formaldehyde. Credit Beth Hall for The New York Times

Big industry players also weighed in. Executives from companies including La-Z-Boy, Hooker Furniture and Ashley Furniture all flew to Washington for a series of meetings with the offices of lawmakers including House Speaker John Boehner, Republican of Ohio, and about a dozen other lawmakers, asking several of them to sign a letter prepared by the industry to press the E.P.A. to back down, according to an industry report describing the lobbying visit.

Within a matter of weeks, two letters — using nearly identical language — were sent by House and Senate lawmakers to the E.P.A. — with the industry group forwarding copies of the letters to the agency as well, and then posting them on its website.

The industry lobbyists also held their own meeting at E.P.A. headquarters, and they urged Jim Jones, who oversaw the rule-making process as the assistant administrator for the agency’s Office of Chemical Safety and Pollution Prevention, to visit a North Carolina furniture manufacturing plant. According to the trade group, Mr. Jones told them that the visit had “helped the agency shift its thinking” about the rules and how laminated products should be treated.

The resistance was particularly intense from lawmakers like Mr. Wicker of Mississippi, whose state is home to major manufacturing plants owned by Ashley Furniture Industries, the world’s largest furniture maker, and who is one of the biggest recipients in Congress of donations from the industry’s trade association. Asked if the political support played a role, a spokesman for Mr. Wicker replied: “Thousands of Mississippians depend on the furniture manufacturing industry for their livelihoods. Senator Wicker is committed to defending all Mississippians from government overreach.”

Individual companies like Ikea also intervened, as did the Chinese government, which claimed that the new rule would create a “great barrier” to the import of Chinese products because of higher costs.

Perhaps the most surprising objection came from Senator Boxer, of California, a longtime environmental advocate, whose office questioned why the E.P.A.’s rule went further than her home state’s in seeking testing on laminated products. “We did not advocate an outcome, other than safety,” her office said in a statement about why the senator raised concerns. “We said ‘Take a look to see if you have it right.’ ”

Safety advocates say that tighter restrictions — like the ones Ms. Boxer and Mr. Wicker, along with Representative Doris Matsui, a California Democrat, have questioned — are necessary, particularly for products coming from China, where items as varied as toys and Christmas lights have been found to violate American safety standards.

While Mr. Neltner, the environmental advocate who has been most involved in the review process, has been open to compromise, he has pressed the E.P.A. not to back down entirely, and to maintain a requirement that laminators verify that their products are safe.

An episode of CBS’s “60 Minutes” in March brought attention to the issue when it accused Lumber Liquidators, the discount flooring retailer, of selling laminate products with dangerous levels of formaldehyde. The company has disputed the show’s findings and test methods, maintaining that its products are safe.

“People think that just because Congress passed the legislation five years ago, the problem has been fixed,” said Becky Gillette, who then lived in coastal Mississippi, in the area hit by Hurricane Katrina, and was among the first to notice a pattern of complaints from people living in the trailers. “Real people’s faces and names come up in front of me when I think of the thousands of people who could get sick if this rule is not done right.”

An aide to Ms. Matsui rejected any suggestion that she was bending to industry pressure.

“From the beginning the public health has been our No. 1 concern,” said Kyle J. Victor, an aide to Ms. Matsui.

But further changes to the rule are likely, agency officials concede, as they say they are searching for a way to reduce the cost of complying with any final rule while maintaining public health goals. The question is just how radically the agency will revamp the testing requirement for laminated products — if it keeps it at all.

“It’s not a secret to anybody that is the most challenging issue,” said Mr. Jones, the E.P.A. official overseeing the process, adding that the health consequences from formaldehyde are real. “We have to reduce those exposures so that people can live healthy lives and not have to worry about being in their homes.”

The Uphill Battle to Better Regulate Formaldehyde

A 214-pound Queens housewife struggled with a lifelong addiction to food until she shed 72 pounds and became the public face of the worldwide weight-control empire Weight Watchers.

Jean Nidetch, 91, Dies; Pounds Came Off, and Weight Watchers Was Born

“It was really nice to play with other women and not have this underlying tone of being at each other’s throats.”

ay 4, 2015 ‘Game of Thrones’ Q&A: Keisha Castle-Hughes on the Tao of the Sand Snakes

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.

Suzanne Crough, Actress in ‘The Partridge Family,’ Dies at 52

Mr. Haroche was a founder of Liberty Travel, which grew from a two-man operation to the largest leisure travel operation in the United States.

Gilbert Haroche, Builder of an Economy Travel Empire, Dies at 87

Mr. Alger, who served five terms from Texas, led Republican women in a confrontation with Lyndon B. Johnson that may have cost Richard M. Nixon the 1960 presidential election.

Bruce Alger, 96, Dies; Led ‘Mink Coat’ Protest Against Lyndon Johnson

Ms. von Furstenberg made her debut in the movies and on the Broadway stage in the early 1950s as a teenager and later reinvented herself as a television actress, writer and philanthropist.

Betsy von Furstenberg, Baroness and Versatile Actress, Dies at 83
biaya berangkat umrah april di Ciracas jakarta
biaya berangkat umroh april di Makasar jakarta
promo berangkat umrah juni di Utan Kayu Selatan jakarta
promo umroh februari di Jatinegara Kaum jakarta
promo berangkat umroh mei di Duren Sawit jakarta
harga umroh awal tahun di Duren Sawit jakarta
promo berangkat umroh juni di Batuampar jakarta
biaya umroh april depok
harga umrah desember di Cilangkap jakarta
paket promo berangkat umroh juni di Kampung Tengah jakarta
biaya paket berangkat umrah awal tahun di Matraman jakarta
biaya paket umroh awal tahun di Cipinang jakarta
harga umroh maret di Kelapa Dua Wetan jakarta
promo berangkat umroh juni di Malaka Jaya jakarta
paket umrah februari di Pulo Gadung jakarta
harga berangkat umrah ramadhan di Rawa Terate jakarta
biaya paket umroh mei di Duren Sawit jakarta
paket promo umrah mei di Cipinang jakarta
harga berangkat umroh ramadhan di Pinang Ranti jakarta
biaya berangkat umrah ramadhan di Pal Meriam jakarta
biaya berangkat umrah ramadhan di Ujung Menteng jakarta
paket berangkat umroh ramadhan di Makasar jakarta
paket promo umroh juni di Cipayung jakarta
promo berangkat umrah desember di Utan Kayu Utara jakarta
paket umroh februari umrohdepag.com
biaya berangkat umrah januari di Pulo Gadung jakarta
biaya berangkat umrah maret di Ciracas jakarta
paket promo umrah januari bekasi selatan
paket berangkat umrah maret di Bidaracina jakarta
paket umrah juni bekasi timur
biaya paket berangkat umrah akhir tahun di Cipinang Cempedak jakarta
promo berangkat umroh april di Cililitan jakarta
paket umrah akhir tahun di Kramat Jati jakarta
harga berangkat umroh desember di Kramat Jati jakarta
harga umroh april di Ceger jakarta
paket berangkat umrah desember di Kramat Jati jakarta
biaya paket umroh mei bekasi utara
biaya paket berangkat umroh januari di Makasar jakarta
harga paket umroh awal tahun di Kayu Manis jakarta
harga umrah akhir tahun di Cilangkap jakarta
biaya umrah desember bekasi utara
promo umroh desember di Pinang Ranti jakarta
biaya berangkat umrah maret di Jatinegara jakarta
promo umrah april bekasi utara
paket berangkat umroh desember di Cakung jakarta
promo berangkat umrah januari di Utan Kayu Selatan jakarta
biaya paket berangkat umroh juni di Balekambang jakarta
promo berangkat umrah juni di Munjul jakarta
biaya paket berangkat umrah ramadhan di Kebon Manggis jakarta
biaya paket umroh maret di Cililitan jakarta
promo berangkat umroh juni di Cililitan jakarta
biaya paket umrah maret tangerang
promo berangkat umrah maret di Kalisari jakarta
biaya paket umroh juni di Pondok Bambu jakarta
paket berangkat umroh januari di Bali Mester jakarta
paket umroh maret di Ciracas jakarta
paket promo umroh april di Cipayung jakarta
paket umrah april di Bambu Apus jakarta
paket promo berangkat umrah akhir tahun di Jatinegara Kaum jakarta
biaya paket berangkat umroh desember bekasi barat
harga paket umrah maret di Kampung Melayu jakarta
paket promo berangkat umroh awal tahun di Cipinang Cempedak jakarta
paket berangkat umroh mei di Setu jakarta
paket berangkat umrah april di Kayu Manis jakarta
harga paket berangkat umroh mei di Pulogebang jakarta
promo berangkat umroh desember di Utan Kayu Utara jakarta
biaya paket umrah januari di Pulo Gadung jakarta
paket promo berangkat umrah juni di Cakung Timur jakarta
paket umrah maret di Kampung Melayu jakarta
promo berangkat umrah desember di Cipayung jakarta
biaya paket umroh akhir tahun di Rawa Terate jakarta
paket umroh awal tahun tangerang
promo berangkat umroh ramadhan di Kramat Jati jakarta
paket promo umrah maret di Duren Sawit jakarta
biaya berangkat umroh ramadhan di Cipinang Cempedak jakarta
harga berangkat umrah akhir tahun di Kampung Melayu jakarta
paket umrah awal tahun bekasi timur
biaya paket umrah april di Cipinang Besar Utara jakarta
paket promo berangkat umrah februari di Rawamangun jakarta
promo umrah awal tahun di Lubang Buaya jakarta
harga umrah februari di Ciracas jakarta
harga umrah akhir tahun di Bambu Apus jakarta
promo umroh awal tahun di Cilangkap jakarta
harga paket umrah akhir tahun di Balekambang jakarta
biaya berangkat umrah desember di Rawamangun jakarta
biaya berangkat umroh maret bogor
paket promo berangkat umrah awal tahun di Cililitan jakarta
promo berangkat umroh awal tahun di Pondok Ranggon jakarta
promo umroh februari depok
biaya paket umrah april di Penggilingan jakarta
promo umroh februari di Cakung Timur jakarta
harga paket berangkat umrah ramadhan di Rambutan jakarta
paket promo umroh akhir tahun di Munjul jakarta
harga berangkat umroh akhir tahun di Balekambang jakarta
promo umroh maret di Pondok Kelapa jakarta
paket berangkat umrah akhir tahun di Bambu Apus jakarta
biaya umroh akhir tahun di Balekambang jakarta
harga umroh desember di Malaka Jaya jakarta
harga umrah awal tahun depok
biaya berangkat umroh april di Duren Sawit jakarta