PAKET UMROH BULAN FEBRUARI MARET APRIL MEI 2018




Travel Umroh

Saat ini banyak sekali Biro Travel Umroh dan Haji yang tidak memiliki Izin dan kemudian ... Paket Umroh Murah 1499 USD By Citilink Berangkat Maret 2016. Travel Umroh

Artikel lainnya »

    saco-indonesia.com,

    bergetar hati ini saat mengingat dirimu
    mungkin saja diri ini tak terlihat olehmu
    aku pahami itu

    reff:
    bagaimana caranya agar kamu tahu bahwa
    kau lebih dari indah di dalam hati ini
    lewat lagu ini ku ingin kamu mengerti
    aku sayang kamu, ku ingin bersamamu

    meski ku tak pernah tahu kapan kau kan mengerti
    ku coba tuk berharap

    repeat reff [2x]

    Editor : dian sukmawati

 

NIKITA WILLY LEBIH DARI INDAH

Semen juga merupakan jenis bahan bangunan material rumah yang paling sering digunakan, bahan bangunan material ini juga digunakan untuk dapat membuat sebuah pondasi. Selain kayu, logam dan besi, semen juga merupakan elemen yang sebenarnya tidak bisa ditinggal.

Saat ini, banyak sekali jenis semen yang beredar di pasaran toko bahan bangunan material. Namun, banyak sekali dari orang–orang yang tidak tahu cara memilih semen yang baik. Semen yang baik adalah semen yang bisa menghasilkan bangunan rumah minimalis yang berkualitas dan juga bagus. Yang paling penting saat pembelian semen itu adalah dengan mencoba kelunakan dan kelembutan semen dengan menekannya meski masih berada dalam kemasannya. Jika semen yang di tekan dari luar kemasan terasa keras, itu tandanya semen sudah terlalu lama disimpan dan sudah tidak dalam kondisi yang bagus lagi.

Lalu semen yang baik juga akan terlihat ketika sudah dikeluarkan dari kemasannya. Semen yang baik kualitasnya, adalah semen yang seluruh butirannya bisa terurai dan nampak lembut seperti debu, juga tidak menggumpal. Tapi jika semen tersebut mulai menggumpal dan terlihat kasar, maka kualitasnya juga sudah pasti berkurang. Apalagi jika sudah terlihat mengeras dan membatu seperti kerikil.

Kemudian setelah tahu dan mendapatkan semen yang baik, tentu kita juga harus tahu cara untuk menyimpan semen yang baik agar tidak turun kualitas semennya. Karena jika terjadi salah–salah dalam menyimpan semen, bisa akan membuat semen menjadi rusak dan juga mengeras. Kita tentu tidak ingin hal itu akan terjadi bukan? Oleh karena itu, ada sedikit cara untuk dapat menyiasati agar hal tersebut tidak terjadi.

Material bahan bangunan semen yang sudah dibuka atau yang belum dibuka harus disimpan dalam ruangan yang tertutup atau minimal terlindung dari sinar matahari dan hujan. Selain itu, kita juga harus memperhatikan permukaan lantainya. Sebaiknya, kita harus menyimpannya di permukaan lantai yang datar dan tidak berupa tanah.

Dan untuk semen yang belum dibuka dari kemasannya, kita juga bisa menggunakan kayu sebagai wadah landasan. Jadi, semen tidak langsung diletakkan pada lantai. Dan metode ini tentu telah memiliki tujuan. Jika terjadi penguapan air dan pengembunan didalam tanah atau dibawah lantai maka tidak akan langsung terkena semen. Otomatis, semen akan terhindar dari kerusakan. Jika semen yang disimpan dalam jumlah yang banyak, maka bisa disimpan dengan menggunakan konsep susunan batu bata. Saling berjajar, namun pada bagian atasnya telah diletakkan dalam posisi yang saling menyilang. Hal ini untuk dapat menghindari susunan kemasan semen agar tidak bisa jatuh dan tumpah. Selain itu, tujuan untuk menyimpan semen dengan metode ini adalah agar semen bisa mendapatkan celah atau ruang untuk mendapatkan udara dan terhindar dari penggumpalan.

Dan dari keadaan yang disimpan, untuk dapat menggunakan semen haruslah diambil dari stok pertama atau dari tumpukan pertama (bawah). Hal ini telah dilakukan agar menghindari penggumpalan pada semen karena disimpan terlalu lama. Dalam penyimpanan semen, hal yang harus diperhatikan juga adalah kebersihan dari tempat penyimpanan. Tempat yang lembap bisa akan membuat semen cepat menggumpal dan mengeras jauh lebih cepat. Begitu pula dengan dengan sirkulasi udara yang pengap, hal itu bisa menimbulkan masalah yang sama. Namun, jika tidak terdapat tempat penyimpanan di dalam ruangan atau seperti gudang untuk dapat menyimpan semen, maka sebaiknya gunakan tempat yang teduh dan lindungi dari sinar matahari. Untuk perlindungan lebih maksimal, kita bisa gunakan kain terpal.

Semoga tips dalam memilih bahan bangunan khususnya semen bisa bermanfaat untuk Anda! Selamat berbelanja!


 

TIPS MEMILIH BAHAN BANGUNAN

saco-indonesia.com, Kondisi Erwiana Sulistiyaningsih, TKW yang telah disiksa oleh majikannya di Hongkong telah membaik sejak dirawat di RSI Amal Sehat, Sragen, Jawa Tengah sejak 11 Januari lalu. Erwiana telah ditangani oleh lima dokter spesialis yakni spesialis bedah, syaraf, penyakit dalam, kulit, serta psikolog untuk dapat memulihkan memorinya pascatrauma.

Ketua Tim Dokter dr Imam Fadli Sp B juga mengatakan kondisi Erwiana saat ini terus membaik. Namun masih mengeluhkan pusing terutama saat duduk dalam waktu yang lama.

"Sudah lumayan membaik, setelah kita tangani. Ada 5 dokter spesialis, yang telah menangani. Pusing yang dirasakan karena efek gegar otaknya yang belum juga sembuh. Berdasarkan dari hasil MRI, masih ada sisa bekas pendarahan di otak," ujar Imam.
Imam juga memperkirakan kondisi Erwiana akan pulih dalam waktu kurang dari sebulan. Pihaknya juga menjanjikan penyembuhan Erwiana secepatnya untuk keperluan penyidikan.

Sementara itu, tim dokter forensik dari Hongkong akan datang ke RSI Amal Sehat. Mereka juga akan didampingi tim dokter forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara, Polda Jateng.

"Nanti malam mereka akan datang. Mereka akan melihat dari dekat kondisi Erwiana. Secara legal kan dokter forensik Indonesia yang berhak melakukan visum. Tim dokter dari Hongkong hanya mendampingi saja," pungkas Imam.


Editor : Dian Sukmawati

ERWIANA AKAN DIPERIKSA OLEH TIM DOKTER HONGKONG

saco-indonesia.com, Saat ini, sebagian besar orang, terutama yang tinggal di kota besar, telah memiliki lebih dari satu, bahkan ada yang sampai memiliki lima akun, baik email maupun social media.

Setiap akun tersebut, pasti telah memiliki password. Bahkan handset seperti BlackBerry pun juga butuh password khusus untuk bisa membuka BlackBerry ID-nya. Kebanyakan orang yang takut lupa password accountnya, terkadang menyamakan password untuk semua account, baik e-mail maupun social media, meskipun hal itu tentunya juga sangat tidak aman dan berbahaya.

Mengingat password, apalagi ditambah dengan PIN ATM ataupun Wi-Fi juga merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Apalagi kalau perusahaan atau instansi yang mewajibkan karyawannya untuk mengganti password setiap bulan, seperti kantor Ericsson misalnya.

Menurut VP Marketing dan Communication Ericsson Indonesia Hardyana Syintawati, tren konsumer digital ke depan, salah satunya adalah dengan menggunakan tubuh manusia sebagai password.

"Tubuh adalah kunci baru. Tren ini terkait dengan keamanan. Sejauh ini, pengamanan banyak dilakukan dengan kombinasi angka dan huruf untuk dapat menjadi kata kunci. Namun ke depan, bagian tubuh yang akan menjadi pengaman," tuturnya, belum lama ini.

Dia pun juga menilai penyedia aplikasi akan menyediakan fasilitas finger print sebagai password untuk mulai masuk menjelajahi akun email atau social media, atau bisa juga dengan retina mata.

Menurut Hardyana yang akrab dipanggil Nana, password dengan menggunakan anggota tubuh akan jauh lebih aman dan pengguna pun juga tak perlu khawatir lupa kode password atau PIN.


Editor : Dian Sukmawati

PASSWORD BISA MENGGUNAKAN TUBUH MANUSIA

Orang-orang ini dikenal karena memiliki kebiasaan aneh ataupun kejadian unik yang dialaminya. Mulai dari orang yang tidak pernah tidur selama 30 tahun lebih! Ada pula pria yang punya kebiasaan aneh, yakni memakan benda-benda yang secara normal tak bisa dicerna tubuh manusia. Misalnya, sepeda, televisi, hingga pesawat Cessna 150. Astaga!

Berikut 6 pria paling aneh di muka bumi seperti dirangkum dari dari berbagai sumber:

1. Thai Ngoc, tidak tidur 30 tahun lebih

Pria Vietnam ini tak bisa tidur sejak menderita demam pada tahun 1973. Menurut media Vietnam, Thanh Nien, dia mengklaim tak pernah tidur selama 33 tahun. Selama itu, Thai Ngoc atau Hai Ngoc yang dilahirkan tahun 1942 ini menggunakan 'waktu luangnya' di malam hari untuk mengurusi lahan pertaniannya atau ronda menjaga lahannya dari pencuri. Ngoc memiliki lahan pertanian seluas 5 hektar yang terletak di wilayah kaki gunung di Que Trung, distrik Que Son, Thailand. Sehari-hari Ngoc sibuk bertani dan mengurusi hewan-hewan ternaknya, seperti ayam dan babi.

Anehnya, kesehatan Ngoc tidak terpengaruh dengan kebiasaan tidak bisa tidur tersebut. Sang istri pernah membawa Ngoc untuk memeriksakan kesehatannya dan dokter menyatakan, secara keseluruhan kondisi Ngoc sehat. Kecuali, ada sedikit masalah pada fungsi hatinya, namun tidak serius.

"Saya tidak tahu apakah insomnia yang saya alami mempengaruhi kesehatan saya atau tidak. Tapi saya merasa tetap sehat dan bisa bertani seperti yang lainnya," ucap Ngoc. Pria itu bahkan mengaku setiap harinya masih mampu membawa 50 kg karung pupuk sembari berjalan turun gunung sejauh 4 km.

2. Michel Lotito, pria pemakan segala

Michel Lotito yang lahir pada 15 Juni 1950 adalah seorang entertainer. Di Prancis, dia dikenal sebagai Monsieur Mangetout (Mister Eat-it-all) alias 'Pria Pemakan Segala'. Dalam atraksinya, Lotito gemar memakan benda-benda yang secara normal tak bisa dicerna tubuh manusia, seperti logam, kaca, karet. Bahkan juga benda-benda lain seperti sepeda, televisi, hingga pesawat Cessna 150. Benda-benda tersebut terlebih dahulu dibongkar dan dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil, baru kemudian dimakannya. Lotito diketahui pernah memakan badan pesawat selama 2 tahun, dari 1978-1980

. Kebiasaan makan benda-benda tak lazim ini dilakukan Lotito sejak kecil dan mulai dipamerkan ke publik pada tahun 1966 silam. Meskipun kerap memakan benda-benda aneh, kondisi tubuh dan kesehatan Lotito seolah tak terpengaruh. Dia sama sekali tidak mengalami sakit apapun meskipun telah memakan benda-benda yang mengandung racun.

Ketika memakan berkilo-kilo logam atau benda aneh lainnya, Lotito dibantu dengan minyak mineral atau air dalam jumlah banyak untuk membantu pencernaannya. Menurut pemeriksaan medis, Lotito dinyatakan memiliki perut dan usus dengan ketebalan dua kali lipat dari ukuran normal. Selain itu, asam pencernaan yang ada di dalam lambungnya diperkirakan memiliki kekuatan luar biasa sehingga mampu mencerna benda-benda logam yang dia makan. Luar biasa!

3. Matayoshi Mitsuo, mengaku sebagai Yesus Kristus Politikus eksentrik Jepang ini mengaku dirinya adalah Yesus Kristus. Menurut visi Matayoshi, pria ini mengklaim akan melakukan penghakiman terakhir sebagai Kristus namun dengan cara yang benar-benar sesuai dengan sistem politik saat ini.

Matayoshi menuturkan, langkah pertama yang harus dijalaninya sebagai Juruselamat adalah dengan terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang. Kemudian dia akan mereformasi masyarakat Jepang. Tidak hanya itu, Matayoshi juga meminta PBB untuk memberikannya posisi terhormat sebagai Sekretaris Jenderal PBB. Dengan demikian, Matayoshi akan bisa memerintah seluruh dunia dengan dua jabatan legal tersebut, tidak hanya secara agama tapi juga secara politik.

Matayoshi telah berulang kali ikut serta dalam pemilihan umum di Jepang, namun tidak pernah berhasil menang. Dia dikenal karena kampanyenya yang eksentrik -dia pernah menyerukan para rival politiknya untuk bunuh diri dengan melakukan harakiri.

4. Shoichi Yokoi, 28 tahun sembunyi di gua usai PD II

Yokoi tadinya seorang tentara yang tergabung dalam wajib militer di Tentara Kerajaan Jepang pada tahun 1941 silam dan tak lama kemudian dikirim ke Guam. Pada tahun 1944, ketika pasukan Amerika Serikat menduduki Guam, Yokoi memilih bersembunyi.

Hingga akhirnya pada 24 Januari 1972, Yokoi ditemukan di sebuah daerah terpencil di Guam oleh dua warga pulau tersebut. Selama 28 tahun, pria itu hidup bersembunyi di dalam gua bawah tanah di tengah hutan. Yokoi terlalu takut untuk keluar, bahkan setelah dia menemukan selebaran yang isinya menyebutkan bahwa Perang Dunia II telah berakhir.

Yokoi akhirnya dipulangkan ke Jepang sembari membawa senapannya yang telah berkarat.

5. Sanju Bhagat, 'mengandung' saudara kembarnya di dalam perut

Pria asal India ini memiliki kondisi perut yang tidak wajar, yakni membengkak seperti sedang hamil 9 bulan. Bhagat yang tinggal di Nagpur, India ini sering merasa sesak nafas karena kondisinya itu.

Sampai akhirnya pada suatu malam di bulan Juni 1999, Bhagat menjalani operasi di rumah sakit. Isi perut Bhagat yang awalnya diduga tumor ganas, ternyata merupakan sesuatu yang tak diduga sama sekali. Saat dioperasi, dokter menemukan sejumlah bagian tubuh manusia di bagian dalam perut Bhagat. Bagian-bagian tubuh tersebut ternyata milik saudara kembar Bhagat yang terjebak di dalam perutnya sejak lahir.

Dokter menyatakan, Bhagat mengalami kondisi medis teraneh di dunia, yakni janin di dalam janin lainnya. Sangat jarang terjadi bahwa sebuah janin bisa terjebak di dalam janin kembarannya sendiri. Menariknya, janin yang terjebak ini mampu bertahan hidup sebagai parasit dan menyerap darah dan makanan dari tubuh Bhagat, hingga dia bertambah besar dan mulai menyakiti tubuh Bhagat.

6. Mehran Karimi Nasseri, hidup di bandara sejak 1988

Pria yang juga dikenal sebagai Sir, Alfred Mehran ini merupakan seorang pengungsi asal Iran yang tinggal di Bandara Charles de Gaulle, Prancis sejak Agustus 8 Agustus 1988. Mehran tinggal di ruang tunggu keberangkatan di Terminal Satu bandara internasional di Paris itu selama bertahun-tahun karena tak memiliki dokumen.

Kisah Mehran ini dimulai ketika dia dipenjara dan dianiaya di Iran, kemudian dibuang keluar negeri. Mehran lalu berusaha mendapatkan suaka ke sejumlah negara di Eropa, tapi usahanya tidak membuahkan hasil.

Saat mencoba pergi ke Inggris, Mehran mengklaim bahwa dirinya dirampok dan tasnya dicuri orang saat akan berangkat menuju Bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke Inggris. Dia pun berhasil naik ke pesawat dan terbang ke Inggris. Tapi setibanya di Bandara Heathrow di London, Inggris, Mehran yang tidak membawa dokumen-dokumen yang diperlukan, diterbangkan kembali ke Bandara Charles de Gaulle.

Kepada otoritas Prancis, Mehran tak bisa menunjukkan identitas maupun dokumen-dokumen yang membuktikan dirinya sebagai seorang pengungsi. Dia pun dipindahkan ke zona tunggu, sebuah tempat 'penahanan' bagi pelancong tanpa dokumen.

Kisah Mehran ini konon menjadi inspirasi bagi film 'The Terminal' keluaran tahun 2004, yang dibintangi oleh aktor Hollywood, Tom Hanks. Namun tidak seperti karakter yang diperankan Hanks dalam film tersebut yang tinggal di area transit bandara, Mehran justru tinggal di area keberangkatan, juga di dekat butik-butik dan restoran yang berada di lantai dasar.

Selama tinggal di bandara, Mehran terlihat jarang berkomunikasi dengan orang lain. Dengan membawa-bawa kereta dorong dan tasnya, Mehran tampak seperti pelancong biasa, tanpa ada yang menyadari bahwa dia sebenarnya adalah gelandangan.

Pria Aneh Di Dunia

A 2-minute-42-second demo recording captured in one take turned out to be a one-hit wonder for Mr. Ely, who was 19 when he sang the garage-band classic.

Jack Ely, Who Sang the Kingsmen’s ‘Louie Louie’, Dies at 71

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Ms. Rendell was a prolific writer of intricately plotted mystery novels that combined psychological insight, social conscience and teeth-chattering terror.

Ruth Rendell, Novelist Who Thrilled and Educated, Dies at 85

Mr. Goldberg was a serial Silicon Valley entrepreneur and venture capitalist who was married to Sheryl Sandberg, the chief operating officer of Facebook.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate

Dave Goldberg, Head of Web Survey Company and Half of a Silicon Valley Power Couple, Dies at 47

Mr. Fox, known for his well-honed countrified voice, wrote about things dear to South Carolina and won over Yankee critics.

William Price Fox, Admired Southern Novelist and Humorist, Dies at 89

Ms. Plisetskaya, renowned for her fluidity of movement, expressive acting and willful personality, danced on the Bolshoi stage well into her 60s, but her life was shadowed by Stalinism.

Maya Plisetskaya, Ballerina Who Embodied Bolshoi, Dies at 89

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

William Sokolin, Wine Seller Who Broke Famed Bottle, Dies at 85
Joseph Lechleider

Mr. Lechleider helped invent DSL technology, which enabled phone companies to offer high-speed web access over their infrastructure of copper wires.

Joseph Lechleider, a Father of the DSL Internet Technology, Dies at 82

Since a white police officer, Darren Wilson fatally shot unarmed black teenager, Michael Brown, in a confrontation last August in Ferguson, Mo., there have been many other cases in which the police have shot and killed suspects, some of them unarmed. Mr. Brown's death set off protests throughout the country, pushing law enforcement into the spotlight and sparking a public debate on police tactics. Here is a selection of police shootings that have been reported by news organizations since Mr. Brown's death. In some cases, investigations are continuing.

Photo
 
 
The apartment complex northeast of Atlanta where Anthony Hill, 27, was fatally shot by a DeKalb County police officer. Credit Ben Gray/Atlanta Journal Constitution

Chamblee, Ga.
Fatal Police Shootings: Accounts Since Ferguson
Children playing last week in Sandtown-Winchester, the Baltimore neighborhood where Freddie Gray was raised. One young resident called it “a tough community.”
Todd Heisler/The New York Times

Children playing last week in Sandtown-Winchester, the Baltimore neighborhood where Freddie Gray was raised. One young resident called it “a tough community.”

Hard but Hopeful Home to ‘Lot of Freddies’

Hard but Hopeful Home to ‘Lot of Freddies’

Mr. King sang for the Drifters and found success as a solo performer with hits like “Spanish Harlem.”

Ben E. King, Soulful Singer of ‘Stand by Me,’ Dies at 76

As he reflected on the festering wounds deepened by race and grievance that have been on painful display in America’s cities lately, President Obama on Monday found himself thinking about a young man he had just met named Malachi.

A few minutes before, in a closed-door round-table discussion at Lehman College in the Bronx, Mr. Obama had asked a group of black and Hispanic students from disadvantaged backgrounds what could be done to help them reach their goals. Several talked about counseling and guidance programs.

“Malachi, he just talked about — we should talk about love,” Mr. Obama told a crowd afterward, drifting away from his prepared remarks. “Because Malachi and I shared the fact that our dad wasn’t around and that sometimes we wondered why he wasn’t around and what had happened. But really, that’s what this comes down to is: Do we love these kids?”

Many presidents have governed during times of racial tension, but Mr. Obama is the first to see in the mirror a face that looks like those on the other side of history’s ledger. While his first term was consumed with the economy, war and health care, his second keeps coming back to the societal divide that was not bridged by his election. A president who eschewed focusing on race now seems to have found his voice again as he thinks about how to use his remaining time in office and beyond.

Continue reading the main story Video
Play Video|1:17

Obama Speaks of a ‘Sense of Unfairness’

Obama Speaks of a ‘Sense of Unfairness’

At an event announcing the creation of a nonprofit focusing on young minority men, President Obama talked about the underlying reasons for recent protests in Baltimore and other cities.

By Associated Press on Publish Date May 4, 2015. Photo by Stephen Crowley/The New York Times.

In the aftermath of racially charged unrest in places like Baltimore, Ferguson, Mo., and New York, Mr. Obama came to the Bronx on Monday for the announcement of a new nonprofit organization that is being spun off from his White House initiative called My Brother’s Keeper. Staked by more than $80 million in commitments from corporations and other donors, the new group, My Brother’s Keeper Alliance, will in effect provide the nucleus for Mr. Obama’s post-presidency, which will begin in January 2017.

“This will remain a mission for me and for Michelle not just for the rest of my presidency but for the rest of my life,” Mr. Obama said. “And the reason is simple,” he added. Referring to some of the youths he had just met, he said: “We see ourselves in these young men. I grew up without a dad. I grew up lost sometimes and adrift, not having a sense of a clear path. The only difference between me and a lot of other young men in this neighborhood and all across the country is that I grew up in an environment that was a little more forgiving.”

Advertisement

Organizers said the new alliance already had financial pledges from companies like American Express, Deloitte, Discovery Communications and News Corporation. The money will be used to help companies address obstacles facing young black and Hispanic men, provide grants to programs for disadvantaged youths, and help communities aid their populations.

Joe Echevarria, a former chief executive of Deloitte, the accounting and consulting firm, will lead the alliance, and among those on its leadership team or advisory group are executives at PepsiCo, News Corporation, Sprint, BET and Prudential Group Insurance; former Secretary of State Colin L. Powell; Senator Cory Booker, Democrat of New Jersey; former Attorney General Eric H. Holder Jr.; the music star John Legend; the retired athletes Alonzo Mourning, Jerome Bettis and Shaquille O’Neal; and the mayors of Indianapolis, Sacramento and Philadelphia.

The alliance, while nominally independent of the White House, may face some of the same questions confronting former Secretary of State Hillary Rodham Clinton as she begins another presidential campaign. Some of those donating to the alliance may have interests in government action, and skeptics may wonder whether they are trying to curry favor with the president by contributing.

“The Obama administration will have no role in deciding how donations are screened and what criteria they’ll set at the alliance for donor policies, because it’s an entirely separate entity,” Josh Earnest, the White House press secretary, told reporters on Air Force One en route to New York. But he added, “I’m confident that the members of the board are well aware of the president’s commitment to transparency.”

The alliance was in the works before the disturbances last week after the death of Freddie Gray, the black man who suffered fatal injuries while in police custody in Baltimore, but it reflected the evolution of Mr. Obama’s presidency. For him, in a way, it is coming back to issues that animated him as a young community organizer and politician. It was his own struggle with race and identity, captured in his youthful memoir, “Dreams From My Father,” that stood him apart from other presidential aspirants.

But that was a side of him that he kept largely to himself through the first years of his presidency while he focused on other priorities like turning the economy around, expanding government-subsidized health care and avoiding electoral land mines en route to re-election.

After securing a second term, Mr. Obama appeared more emboldened. Just a month after his 2013 inauguration, he talked passionately about opportunity and race with a group of teenage boys in Chicago, a moment aides point to as perhaps the first time he had spoken about these issues in such a personal, powerful way as president. A few months later, he publicly lamented the death of Trayvon Martin, a black Florida teenager, saying that “could have been me 35 years ago.”

Photo
 
President Obama on Monday with Darinel Montero, a student at Bronx International High School who introduced him before remarks at Lehman College in the Bronx. Credit Stephen Crowley/The New York Times

That case, along with public ruptures of anger over police shootings in Ferguson and elsewhere, have pushed the issue of race and law enforcement onto the public agenda. Aides said they imagined that with his presidency in its final stages, Mr. Obama might be thinking more about what comes next and causes he can advance as a private citizen.

That is not to say that his public discussion of these issues has been universally welcomed. Some conservatives said he had made matters worse by seeming in their view to blame police officers in some of the disputed cases.

“President Obama, when he was elected, could have been a unifying leader,” Senator Ted Cruz of Texas, a Republican candidate for president, said at a forum last week. “He has made decisions that I think have inflamed racial tensions.”

On the other side of the ideological spectrum, some liberal African-American activists have complained that Mr. Obama has not done enough to help downtrodden communities. While he is speaking out more, these critics argue, he has hardly used the power of the presidency to make the sort of radical change they say is necessary.

The line Mr. Obama has tried to straddle has been a serrated one. He condemns police brutality as he defends most officers as honorable. He condemns “criminals and thugs” who looted in Baltimore while expressing empathy with those trapped in a cycle of poverty and hopelessness.

In the Bronx on Monday, Mr. Obama bemoaned the death of Brian Moore, a plainclothes New York police officer who had died earlier in the day after being shot in the head Saturday on a Queens street. Most police officers are “good and honest and fair and care deeply about their communities,” even as they put their lives on the line, Mr. Obama said.

“Which is why in addressing the issues in Baltimore or Ferguson or New York, the point I made was that if we’re just looking at policing, we’re looking at it too narrowly,” he added. “If we ask the police to simply contain and control problems that we ourselves have been unwilling to invest and solve, that’s not fair to the communities, it’s not fair to the police.”

Moreover, if society writes off some people, he said, “that’s not the kind of country I want to live in; that’s not what America is about.”

His message to young men like Malachi Hernandez, who attends Boston Latin Academy in Massachusetts, is not to give up.

“I want you to know you matter,” he said. “You matter to us.”

Obama Finds a Bolder Voice on Race Issues

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Tribute for a Roller Hockey Warrior

Mr. Paczynski was one of the concentration camp’s longest surviving inmates and served as the personal barber to its Nazi commandant Rudolf Höss.

Jozef Paczynski, Inmate Barber to Auschwitz Commandant, Dies at 95

At the National Institutes of Health, Dr. Suzman’s signature accomplishment was the central role he played in creating a global network of surveys on aging.

Richard Suzman, 72, Dies; Researcher Influenced Global Surveys on Aging
biaya umrah april di Duren Sawit jakarta
paket promo umrah juni di Kebon Manggis jakarta
biaya paket berangkat umrah akhir tahun di Pasar Rebo jakarta
harga paket umrah juni di Lubang Buaya jakarta
harga umroh desember bekasi timur
promo umrah awal tahun di Setu jakarta
biaya paket umroh ramadhan di Ujung Menteng jakarta
harga paket umroh akhir tahun di Cipinang Muara jakarta
harga umroh akhir tahun di Kampung Melayu jakarta
paket promo berangkat umrah desember di Cipinang Muara jakarta
biaya berangkat umrah juni di Batuampar jakarta
paket umrah ramadhan bekasi timur
biaya paket umrah maret di Pondok Bambu jakarta
biaya umroh mei di Kelapa Dua Wetan jakarta
biaya berangkat umrah ramadhan di Bidaracina jakarta
harga paket berangkat umrah maret di Pasar Rebo jakarta
promo umroh awal tahun di Cipayung jakarta
paket berangkat umroh awal tahun di Pondok Kopi jakarta
paket berangkat umrah ramadhan di Cakung Barat jakarta
biaya umrah april di Cakung jakarta
promo berangkat umrah akhir tahun di Bambu Apus jakarta
promo berangkat umrah juni di Makasar jakarta
harga berangkat umroh februari di Kebon Manggis jakarta
biaya umroh maret di Ceger jakarta
harga paket berangkat umroh desember di Kampung Tengah jakarta
paket promo berangkat umrah februari di Setu jakarta
promo umroh desember di Malaka Sari jakarta
biaya paket berangkat umroh awal tahun di Kramat Jati jakarta
promo berangkat umrah ramadhan di Kampung Baru jakarta
biaya berangkat umroh desember depok
promo berangkat umrah februari di Pondok Ranggon jakarta
harga umrah januari di Kelapa Dua Wetan jakarta
harga umrah akhir tahun bekasi utara
biaya paket berangkat umrah juni di Penggilingan jakarta
biaya umrah akhir tahun di Malaka Sari jakarta
paket promo berangkat umrah januari di Kalisari jakarta
biaya paket berangkat umroh januari di Ciracas jakarta
paket umroh januari bogor
harga berangkat umrah akhir tahun di Rawamangun jakarta
paket promo umrah januari di Cakung Timur jakarta
paket berangkat umrah februari di Balekambang jakarta
promo berangkat umroh ramadhan di Cipinang Besar Selatan jakarta
harga berangkat umroh mei di Jatinegara jakarta
promo umroh april di Rambutan jakarta
biaya paket berangkat umrah maret di Kampung Tengah jakarta
biaya paket berangkat umrah ramadhan di Cipinang Cempedak jakarta
paket umrah ramadhan di Duren Sawit jakarta
paket promo berangkat umroh ramadhan di Cipinang Muara jakarta
harga berangkat umrah desember di Jatinegara jakarta
harga umroh ramadhan di Rambutan jakarta
paket berangkat umroh januari di Cakung jakarta
promo umroh april di Pondok Kelapa jakarta
biaya paket berangkat umrah maret di Malaka Sari jakarta
promo umrah akhir tahun di Jatinegara jakarta
paket promo umrah februari bekasi barat
promo berangkat umroh awal tahun di Balekambang jakarta
biaya paket umrah desember di Rawa Terate jakarta
paket promo berangkat umroh januari di Cipinang Besar Utara jakarta
promo umrah april di Kelapa Dua Wetan jakarta
paket promo berangkat umrah mei bekasi utara
harga berangkat umrah mei di Pondok Kelapa jakarta
harga berangkat umrah ramadhan di Cipinang Besar Selatan jakarta
paket umroh awal tahun di Cawang jakarta
paket promo berangkat umroh akhir tahun di Pulogebang jakarta
harga berangkat umroh februari bekasi utara
harga berangkat umrah maret bekasi selatan
biaya berangkat umrah februari di Kramat Jati jakarta
paket promo umroh awal tahun di Penggilingan jakarta
harga paket berangkat umrah april di Kebon Pala jakarta
paket promo umroh mei di Cipinang Muara jakarta
biaya paket berangkat umroh ramadhan di Kampung Tengah jakarta
paket promo berangkat umrah januari di Duren Sawit jakarta
paket promo umrah april di Jatinegara jakarta
paket berangkat umrah januari di Kramat Jati jakarta
promo umroh awal tahun depok
biaya umroh akhir tahun di Duren Sawit jakarta
paket umroh juni di Duren Sawit jakarta
harga umrah mei di Rawamangun jakarta
paket promo umrah januari di Jati jakarta
paket berangkat umrah akhir tahun di Rawa Terate jakarta
biaya paket umroh april di Jatinegara Kaum jakarta
harga umrah akhir tahun di Pisangan Baru jakarta
paket promo umrah maret bekasi barat
harga umroh januari di Kampung Melayu jakarta
biaya paket berangkat umroh awal tahun di Cipinang jakarta
harga paket berangkat umrah awal tahun di Pondok Kelapa jakarta
paket umrah ramadhan di Kampung Baru jakarta
harga berangkat umrah maret di Balekambang jakarta
biaya paket umroh april bekasi barat
harga umroh april di Duren Sawit jakarta
paket umrah februari di Pulo Gadung jakarta
harga berangkat umroh akhir tahun bogor
paket berangkat umroh awal tahun di Cakung jakarta
biaya umroh ramadhan di Cibubur jakarta
harga umroh akhir tahun di Kebon Manggis jakarta
paket promo umrah februari di Kelapa Dua Wetan jakarta
biaya paket berangkat umroh akhir tahun di Ujung Menteng jakarta
harga umrah maret di Pinang Ranti jakarta
promo berangkat umrah april di Matraman jakarta
harga umrah maret di Kebon Pala jakarta