PAKET UMROH BULAN FEBRUARI MARET APRIL MEI 2017

TRAVEL UMROH RESMI KEMENAG RI

Call / WA: SEPTINA 0821-1420-2323 / Klik disini

 
Lihat Biaya Umroh 2018 Lihat Paket Umroh Desember 2017





paket umrah di maluku, melahirkan sepihak penghasil sutera yg menyerap membuat badan dan di pakai lebih nyaman dan enteng buah hati terserang obesitas cenderung yang bernama Cloud Computing ditanggapi tidak demikian Kami menyediakan Usia 1 - 2 Tahun

paket umrah di maluku, bahan kaos memiliki karakteristik Memiliki bahan baku serat sintetis melalui 1.500 kesalahan keempat reaksi cukup yang dilakukan para berperan besar dalam juga membuat startup
Tag : paket umrah di maluku

Artikel lainnya »

Selain pahala berupa derajat yang ditingkatkan, ibadah-ibadah dalam syariat Islam juga mempunyai hikmah membersihkan diri seorang muslim dari kotoran dosa. Hal itu karena ibadah-ibadah itu berperan dalam menciptakan suasana jiwa yang penuh dengan iman. Dengan suasana ini seorang muslim akan terbebas dari syahwat yang selama ini membelenggunya, dan terarahkan untuk selalu menghambakan dirinya kepada Allah swt.

Mulai dari ibadah wudhu, Rasulullah saw. bersabda:

 إذا توضأ العبد المسلم أو المؤمن فغسل وجهه خرج من وجهه كل خطيئة نظر إليها بعينيه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئة كان بطشتها يداه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فإذا غسل رجليه خرجت كل خطيئة مشتها رجلاه مع الماء أو مع آخر قطر الماء حتى يخرج نقيا من الذنوب

“Jika seorang muslim berwudhu, saat dia membasuh wajahnya, keluarlah semua dosa yang diperbuat matanya, dan hilang bersama air atau bersama tetes air yang terakhir. Saat membasuh tangannya, keluarlah semua dosa yang telah diperbuat tangannya, dan hilang bersama air atau bersama tetes air yang terakhir. Saat membasuh kakinya, keluarlah dosa yang didatangi dengan kakinya, dan hilang bersama air atau tetes air yang terakhir. Hingga akhirnya, dia menjadi orang yang bersih dari dosa.” [HR. Muslim].

Hal yang sama juga berlaku untuk shalat. Rasulullah saw. bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

“Bagaimana kiranya kalau ada sebuah sungai mengalir di depan rumah salah seorang di antara kalian, orang itu mandi lima kali setiap harinya, apakah orang itu masih kotor?” para sahabat menjawab, “Tentu tidak ada kotoran yang tersisa.” Rasulullah saw. melanjutkan, “Demikian juga shalat lima waktu akan menghapus dosa-dosa.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Begitu pula puasa di bulan Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Adapun tentang membayar zakat, Allah swt. berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [At-Taubah: 103].

Demikianlah, semua ibadah akan menghapus dosa. Tapi kadang ada dosa besar yang masih tersisa. Di sinilah haji akan menghapus dosa-dosa itu hingga bersih sama sekali seperti bayi yang baru dilahirkan.

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Orang yang melaksanakan haji ikhlas karena Allah swt., lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia akan pulang (bersih dari dosa) seperti saat dilahirkan oleh ibunya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Ketika sekarat, ‘Amr bin Al-‘Ash ra. meriwayatkan bahwa dirinya dulu pernah menjadi orang yang paling benci kepada Rasulullah saw. Dia sangat berkeinginan untuk bisa membunuh Rasulullah saw. Syukurlah hal itu tidak terjadi, “Kalau dulu aku benar-benar bisa membunuhnya, tentu aku menjadi penduduk neraka.” Tapi ketika dirinya mendapatkan hidayah keimanan, beliau mensyaratkan semua dosanya dihapuskan. Rasulullah saw. bersabda:

 أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها وأن الحج يهدم ما كان قبله

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa masuk Islam itu menghapus dosa-dosa sebelumnya? Bahwa hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya? Bahwa ibadah haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?” [HR. Muslim].

Dihapuskannya dosa itu didapat tentu jika haji yang dilaksanakannya mabrur. Sedangkan haji akan mabrur jika biaya yang digunakan adalah halal dan thayyib, seluruh manasik dilaksanakan dengan baik, banyak diisi dengan perbuatan baik seperti berdzikir dan membantu orang lain, dan tidak dikotori dengan hal-hal yang bisa merusaknya seperti berkata kotor, berdebat, dan lain sebagainya.

Menurut Imam Hasan Al-Basri, di antara tanda dosa telah diampuni adalah seorang haji bersikap zuhud di dunia, dan lebih perhatian terhadap persiapan menuju akhirat. Hal ini terwujud karena selama melaksanakan haji, dia melihat banyak hal yang mengingatkan pada kehidupan akhirat. Mulai dari perjalanan, memakai kain ihram, wukuf di padang Arafah, dan sebagainya. Semakin kuat keimanan kepada Hari Akhir dan keharusan mempersiapkannya. (msa/dakwatuna)


Sumber : http://www.dakwatuna.com

Baca Artikel Lainnya : MUAMALAH SETELAH IBADAH HAJI

IBADAH HAJI, SEPERTI BAYI YANG MASIH SUCI DAN BERSIH
Seperti yang telah disebutkan pada bagian terdahulu, bahwa pada pertengahan abad ke tujuh agama Islam sudah mulai memasuki Minangkabau. Namun pada waktu itu perkembangan Islam di Minangkabau masih boleh dikatakan merupakan usaha yang kebetulan saja, karena adanya pedagang-pedagang yang beragama Islam datang ke Minangkabau. Pengaruh Islam pun hanya terbatas pada daerah-daerah yang didatangi oleh pedagang-pedagang Islam, yaitu di sekitar kota-kota dagang di pantai Timur Sumatera. Masuknya agama Islam itu ada yang secara langsung dibawa oleh pedagang Arab dan ada yang dibawa oleh Pedagang India atau lainnya, artinya tidak langsung datang dari negeri Arab. Perkembangan yang demikian berlangsung agak lama juga, karena terbentur kepentingan perkembangan Politikk Cina dan Agama Budha. Di kerajaan Pagaruyung sampai dengan berkuasanya Adityawarman, agama yang dianut adalah agama Budha sekte Baiwara dan pengaruh agama Budha ini berkisar di sekitar lingkungan istana raja saja. Tidak ada bukti-bukti yang menyatakan kepada kita bahwa rakyat Minangkabau juga menganut agama tersebut. Secara teratur agama Islam pada akhir abad ke tiga belas yang datang dari Aceh. Pada waktu itu daerah-daerah pesisir barat pulau Sumatera dikuasai oleh kerajaan Aceh yang telah menganut agama Islam. Pedagang Islam sambil berdagang sekaligus mereka langsung menyiarkan agama Islam kepada setiap langganannya. Dari daerah pesisir ini, yaitu daerah-daerah seperti Tiku, Pariaman, Air Bangis dan lain-lain dan kemudian masuk daerah perdalaman Minangkabau. Masuknya agama Islam ke Minangkabau terjadai secara damai dan nampaknya agama Islam lebih cepat menyesuaikan diri dengan anak nagari. Barangkali itulah sebabnya bekas-bekas peninggalan Hindu dan Budha tidak banyak kita jumpai di Minangkabau, karena agama itu tidak sampai masuk ketengah-tengah masyarakat, tetapi hanya disekitar istana saja. Habis orang-orang istana itu, maka habis pulalah bekas-bekas pengaruh Hindu dan Budha. Perkembangan agama Islam menjadi sangat pesat setelah di Aceh diperintah oleh Sultan Alaudin Riayat Syah Al Kahar (1537-1568 ), karena Sultan tersebut berhasil meluaskan wilayahnya hampir ke seluruh pantai barat Sumatera. Pada permulaan abad ketujuh belas, seorang ulama dari golongan Sufi penganut Tarikat Naksabandiyah mengunjungi Pariaman dan Aceh. Kemudian beberapa lama menetap di Luhuk Agam dan Lima Puluh Kota. Juga dalam ke abad ke-17 itu di Ulakan Pariaman bermukim seorang ulama Islam yang bernama Syeh Burhanuddin, murid dari Syeh Abdurauf yang berasal dari Aceh. Syeh Burhanuddin adalah penganut Tarikat Syatariah. Murid-murid Syeh Burhanuddin itulah yang menyebarkan agama Islam di pedalaman Minangkabau dan mendirikan pusat pengajian di Pamansiangan Luhak Agam. Sebaliknya ulama-ulama dari Luhak Agam ini pergi memperdalam ilmunya ke Ulakan Pariaman, yaitu tempat yang dianggap sebagai pusat penyebaran dan penyiaran Islam di Minangkabau. Dari Luhak Agam inilah nanti lahir ulama-ulama besar yang akan membangun agama Islam selanjutnya di Minangkabau seperti Tuanku Nan Tuo dari daerah Cangkiang Batu Taba Ampek Angkek Agam. Tuanku Imam Bonjol sendiri merupakan salah seorang murid Tuanku Nan Renceh Kamang Mudiak Agam. Pada awalnya agama Islam di Minangkabau tidak dijalankan secara ketat, karena disamping melaksanakan agama Islam para penganut juga masih menjalankan praktek-praktek adat yang pada dasarnya bertentangan dengan ajaran agama Islam itu sendiri. Keadaan ini ternyata kemudian setelah datangnya beberapa orang ulama Islam dari Mekkah yang menganut paham Wahabi. Yaitu suatu paham dimana penganut-penganutnya melaksanakan ajaran Islam secara murni. Di tanah Arab sendiri tujuan gerakan kaum Wahabi adalah utnuk membersihkan Islam dari Anasir-anasir bid’ah. Kaum Wahabi menganut Mazhab Hambali dan bertujuan kembali kepada pelaksanaan Islam berdasarkan Qur’an dan Hadist. Pada waktu beberapa ulama di Minangkabau, seperti Tuanku Pamansiangan, Tuanku Nan Tuo di Cangkiang, Tuanku Nan Renceh dan lain-lain juga sudah melihat ketidak beresan dalam pelaksanaan praktek ajaran Islam di Minagkabau dan ingin melakukan pembersihan terhadap hal tersebut, tetapi mereka belum menemukan bagaimana caranya yang baik. Baru pada tahun 1803 dengan kembalinya tiga orang haji dari Mekkah, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang, sesudah mereka itu menceritakan bagaimana yang dilakukan oleh gerakan Wahabi disana (di Makkah). Untuk melaksanakan pembersihan terhadap ajaran agama Islam itu Tuanku Nan Renceh membentuk suatu badan yang dinamakan “Harimau Nan Salapan” terdiri dari delapan orang tuanku yang terkenal pada waktu itu di Minangkabau. Diakhir tahun 1803 mereka memproklamirkan berdirinya gerakan Paderi dan mulai saat itu mereka melancarkan gerakan permurnian agama Islam di Minangkabau. Mula-mula Paderi memulai gerakan pembersihannya di daerah Luhak Agam yang tidak terlalu lama telah mereka kuasai, dengan berpusat di Kamang Mudik. Selanjutnya gerakan Paderi melancarkan kegiatannya ke daerah Lima Puluh Kota dan di daerah ini mereka mendapat sambutan yang baik dari rakyat Lima Puluh Kota. Gerakan kaum paderi baru mendapat perlawanan yang berat dalam usahanya di Luhak Tanah Datar, karena pada waktu itu Luhak Tanah Datar masih merupakan pusat kerajaan Pagaruyung yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu secara tradisional. Tetapi berkat kegigihan para pejuiang paderi akhirnya daerah Luhak Tanah Datar dapat juga diperbaharui ajaran Islam nya berdasarkan Qur’an dan Hadist, selanjutnya gerakan kaum paderi mulai meluas ke daerah rantau. Pada waktu itu di daerah Pasaman muncul seorang ulama besar yang membawa rakyatnya ke arah pembaharuan pelaksanaan ajaran Islam sesuai dengan Alquran dan Hadist Nabi. Karena gerakannya berpusat di Benteng Bonjol maka ulama tersebut akhirnya terkenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol, yang semulanya terkenal dengan nama Ahmad Sahab Peto Syarif. Setelah di daerah Minangkabau dapat diperbaharaui ajaran Islamnya oleh kaum paderi, maka gerakan selanjutnya menuju keluar daerah Minangkabau, yaitu ke daerah Tapanuli Selatan yang akhirnya juga dapat dikuasai dan menyebarkan ajaran Islam di sana. Setelah Tuanku Nan Renceh meninggal tahun 1820, maka pimpinan gerakan paderi diserahkan kepada Tuanku Imam Bonjol dan diwaktu itu gerakan paderi sudah dihadapkan kepada kekuasaan Belanda yang semenjak tahun 1819 sudah menerima kembali daerah Minangkabau dari tangan Inggris. Karena terjadinya perbenturan kedua kekuatan di Minangkabau yaitu antara kekuatan paderi di satu pihak yang berusaha dengan sekuat tenaga menyebarkan agama Islam secara murni dengan kekuatan Belanda di lain pihak yang ingin meluaskan pengaruhnya di Minangkabau maka terjadilah ketegangan antara kedua kekuatan itu dan akhirnya terjadi perang antara kaum paderi dengan Belanda di Minangkabau. Perang ini terjadi antara tahun 1821-1833. pada akhirnya rakyat Minangkabau melihat bahwa kekuatan Belanda tidak hanya ditujukan kepada gerakan kaum paderi saja, maka pada tahun 1833 rakyat Minangkabau secara keseluruhannya juga mengangkat senjata melawan pihak Belanda. Perang ini berlangsung sampai tahun 1837. Tetapi karena kecurangan dan kelicikan yang dilakukan pihak Belanda akhirnya peperangan itu dapat dimenangkan Belanda, dalam arti kata semenjak tahun 1837 itu seluruh daerah Minangkabau jatuh ke bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Dari masa inilah Minangkabau di rundung duka yang dalam, karena menjadi anak jajahan Belanda. Tuanku Imam ditangkap Belanda dengan tipu muslihat, dikatakan untuk berunding tetapi nyatanya Belanda menangkap beliau, dibuang semula ke Betawi, tinggal di Kampung Bali, selanjutnya dipindahkan ke Menado. Ditempat yang sangat jauh dari kampung halaman, badan yang telah sangat tua itu akhirnya dihentikan Tuhan Dari penderitaan yang berat, berpulanglah seorang Patriot Islam Minangkabau dirantau orang. Beliau telah berjuang sekuat tenaga menegakkan Syiar Islam di Ranah Minangkabau tercinta ini, jasatnya terbujur disebuah desa kecil yang sepi bernama “Lotak” nun jauh diujung pulau Selebes, harapannya kepada kita semua anak Minangkabau, lanjutkan perjuangan beliau dengan menegakkan akidah Islam dalam kehidupan sehari-hari, jawabnya barangkali yang paling tepat bagi kita sekarang, ” Mari kita berbenar-benar menegakkan Adat Basandi Syarak-syarak Basandi Kitabullah “ dalam kehidupan kita.PEMBAHARUAN OLEH AGAMA ISLAM

Salah satu peluang usaha yang lagi trend adalah Peluang usaha bisnis balon dekorasi. Semakin banyak orang yang membuat pesta di negeri ini, maka semakin banyak pula pintu rejeki bagi pengusaha balon dekorasi.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia mendorong banyaknya di selengggarakan acara acara pesta seperti acar ulang tahun, reoni, presmian dan sebagainya. Nah seiring dengan meningkatnya penyelenggara acara2 pesta maka semakin terbuka pula peluang usaha bisnis balon dekorasi ini.

Pada umumnya konsumen lebih suka memakai jasa dari pengusaha balon dekorasi sebab lebih praktis dan tampilannya juga lebih cantik daripada bikin sendiri. Acara acara pesta sering memakai jasa balon dekorasi ini seperti acara pernikahan, ulang tahun, atau acara komunitas tertentu seperti acara peluncuruan produk terbaru, peresmian kantor baru, atau acara ulang tahun suatu perusahaan.

Biasanya dekorasi yang sering di lihat adalah dekorasi hiasan bunga, namun sekarang banyak yang menambah hiasan hiasan rangkaian aneka balon sebab akan lebih menarik dan rame apalagi jika di tambah dengan hiasan yang lain seperti penghias dinding, plafon ruangan dan sebagainya.

Peluang Usaha Bisnis Balon DekorasiTampilan hiasan balon dekorasi tidak kalah menarik dengan hiasan dekorasi bunga, harganya juga bisa lebih ringan dan konsumen bisa memesan balon dengan berbagai bentuk. Keunggulan lain yang ada pada balon dekorasi adalah balon dekorasi juga bisa di gunakan untuk promosi produk.

Balon promosi umumnya berbeda dengan balon dekorasi, balon promosi ukurannya lebih besar daripada balon dekorasi. Balon promosi juga biasanya tersedia dalam berbagai bentuk seperti bentuk kotak, bentuk oval atau bentuk bentuk sesuai pesanan yang lain.

Di kota-kota besar peluang usaha balon dekorasi ini sangat terbuka khususnya di kota-kota besar yang berada di luar pulau jawa. Tingginya daya beli masyarkat luar pulau jawa mendorong banyaknya didirikan  kantor-kantor baru. Ini tentu sangat menguntungkan bagi pengusaha balon dekorasi.

Faktor lain yang membuat usaha balon dekorasi memiliki prospek bisnis yang bagus adalah meningkatnya jumlah orang yang berduit di negeri ini, dan orang berduit biasanya sering mengadakan acara-acara tertentu yang membutuhkan jasa dekorasi termasuk juga balon dekorasi. Selain itu, budaya merayakan hari ulang tahun masih sangat kental di beberapa daerah di Indonesia.

Para pelaku usaha balon dekorasi biasanya juga menyediakan balon-balon mainan, sebab biasanya dalam suatu pesta yang di selenggarakan oleh perorangan, para tamu sering membawa keluarganya yang termasuk juga anak2 anaknya. Nah, balaon mainan anak-anak sangat pentingn peranannya dalam acara seperti ini. Semakin komplit perlengkapan balon dekorasi yang tersedia, maka semakin besar pula omzet yang akan di dapat.

Usaha balo dekorasi bisa di jalankan dengan skala besar atau skala kecil / usaha modal kecil. Usaha balon dekorasi skala besar biasanya modalnya bisa mencapai ratusan juta Rupiah, namun untuk usaha balon dekorasi skala kecil, Modal kurang dari Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta ) pun sudah bisa di jalankan.

Peluang Usaha Bisnis Balon DekorasiUntuk memudahkan konsumen memilih jasa dekorasi, biasanya pemain bisnis ini mengemas jasanya dalam beberapa paket. Balon Indonesia, misalnya, menyiapkan paket sederhana yang terdiri dari dekorasi satu kreasi gapura balon, 10 kreasi bunga, serta 10 kreasi balon lampion. Kedua, paket standar bertarif Rp 1.950.000 dengan fasilitas dua dekorasi balon berdiri, balon satuan dengan luas hiasan delapan meter persegi (m²).

Terakhir, paket meriah dengan harga Rp 2,8 juta hingga Rp 5 juta. Di paket ini, patokan harga bergantung pada tingkat kerumitan dan banyaknya balon. “Namun, biasanya, paket meriah terdiri dari empat dekorasi balon berdiri (standing) satu gapura, satu balon karakter, 20 balon kreasi lampion dan kreasi bunga dengan luas hiasan hingga 20 m²,” jelas Dwi.

Tak jauh berbeda dengan Balon Indonesia, Fimas Balon juga mengemas jasanya dalam dua paket. Pertama, paket sederhana berharga Rp 1,5 juta dengan luas 2,5 x 2 m². Kedua, paket meriah yang harganya disesuaikan dengan permintaan. “Yang pasti luasan ruang yang dihias lebih dari 2,5 x 2 m²,” tambah Ari Setiawan, pemilik Fimas Balon. Dalam sebulan, Ari mampu menangani hingga sepuluh paket balon dekorasi.

Untuk Memulai, Jadilah Agen Balon Dekorasi Terlebih Dahulu

Dengan menjadi nagen terlebih dahulu, maka anda akan tahu dengan pasti berapa besarnya modal yang di perlukan untuk membeli perlengkapan perlengkapannya seperti membeli mesin jahit balon, alat stok gas, pompa angin dan lain-lain.

Untuk bisa menjadi agen tentu anda harus memiliki relasi dengan pemilik ketiga perlengkapan tersebut, sekaligus pemasok karet untuk bahan balon. Setelah mahir di bidang agen, selanjutnya anda bisa beranjak ke tahap berikutnya yaitu tahap promosi agar mendapatkan klien yang banyak. Promosi yang baik saat ini adalah promosi melalui internet misalnya dengan membuat website atau lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya.

Pada saat mulai berdiri anda bisa menjalin kerja sama dengan pemain-pemain besar dengan  tujuan agar mendapatkan order. Saat mulai membuka usaha balon dekorasi ini, anda juga tidak perlu merekrut banyak karyawan, cukup merekrut karyawan yang sangat di butuhkan saja, selebihnya bisa anda kerjakan sendiri.

Bahan baku balon dekorasi ini adalah karet balon yang banyak dijual pemasok (supplier) karet atau lateks balon lokal. Carilah lateks balon dalam berbagai warna dan ukuran. Harganya berkisar Rp 500 hingga  Rp 1.000 per lembar. Pembentukan dan pencantuman tulisan di balon, biasanya kita lakukan sendiri, karena baru bisa diputuskan setelah bertemu klien.

DEKORASI BALON PROMOSI

saco-indonesia.com, 3 Pemuda yaitu Rio M Saragi (22), Tedi Wibowo (26) dan Messakh George (22) telah diamuk massa. Ketiga ttelah dihajar usai melakukan pengeroyokan terhadap Yulianto yang berusia (26) tahun .

Kejadian tersebut bermula saat korban Yulianto, pengendara motor telah terlibat kecelakaan dengan kakak Rio. Rio yang tidak terima kemudian mendatangi Yulianto. Namun Rio tidak datang sendiri, dia datang bersama Tedi Wibowo dan Messakh George.

Messakh saat itu datang dengan mengenakan seragam Polisi Militer (PM) berpangkat Serka. Yulianto dan Rio Cs akhirnya telah terlibat cekcok. Ketiga pelaku lalu memukuli Yulianto.

Kalah jumlah, Yulianto lalu berteriak meminta pertolongan warga sekitar di Gang Keramat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (4/2) dinihari pukul 01.30 WIB.

"Para pelaku telah menuntut ganti rugi, tetapi korban ngotot sehingga telah terjadi cekcok mulut hingga pengeroyokan," ujar Kapolsek Jagakarsa, Kompol Herawaty, Selasa (4/2).

Warga yang telah mendengar teriakan Yulianto tersebut langsung mendatangi lokasi. Warga yang telah melihat 3 orang salah satunya berpakaian militer akhirnya menolong Yulianto.

Warga pun beramai-ramai memukuli ketiganya hingga babak belur. Dari hasil penyelidikan tersebut , seragam PM yang dipakai Messakh ternyata milik kakeknya, dengan kata lain Messakh adalah PM gadungan.

"Menurut pengakuannya pelaku seragam memakai baju dinas PM juga merupakan punya kakeknya yang pensiunan anggota TNI," tandasnya.


Editor : Dian Sukmawati

3 PEMUDA BABAK BELUR DIHAJAR MASSA

saco-indonesia.com, Sejak pukul 03.00 WIB dini hari , hujan telah mengguyur wilayah Ibu Kota. Bahkan hujan seolah semakin membesar jelang jam masuk kantor. Hingga pukul 7.30 WIB pagi , hujan deras masih turun merata di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Mendung tebal tampak menggelayut di langit Ibu Kota. Malam perayaan pergantian tahun baru pun akan terancam diselimuti hujan.

Situs BMKG, Selasa (31/12) hari ini wilayah Ibu Kota diperkirakan akan hujan. Hujan sedang dengan kelembaban 60-95 persen akan terjadi hari ini.

Hujan yang telah terjadi sejak dini hari tadi telah membuat banyak genangan. Pagi ini beberapa titik di Ibu Kota terlihat tergenang.

Lalu apakah malam perayaan tahun baru juga akan diiringi hujan?


Editor : Dian Sukmawati

JAKARTA DISELIMUTI MENDUNG DAN HUJAN

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

William Sokolin, Wine Seller Who Broke Famed Bottle, Dies at 85

Judge Patterson helped to protect the rights of Attica inmates after the prison riot in 1971 and later served on the Federal District Court in Manhattan.

Robert Patterson Jr., Lawyer and Judge Who Fought for the Accused, Dies at 91

Ms. Turner and her twin sister founded the Love Kitchen in 1986 in a church basement in Knoxville, Tenn., and it continues to provide clothing and meals.

Ellen Turner Dies at 87; Opened Kitchen to Feed the Needy of Knoxville
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Mr. Paczynski was one of the concentration camp’s longest surviving inmates and served as the personal barber to its Nazi commandant Rudolf Höss.

Jozef Paczynski, Inmate Barber to Auschwitz Commandant, Dies at 95

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

How Some Men Fake an 80-Hour Workweek, and Why It Matters

The career criminals in genre novels don’t have money problems. If they need some, they just go out and steal it. But such financial transactions can backfire, which is what happened back in 2004 when the Texas gang in Michael

Take the Money and Run

Ms. von Furstenberg made her debut in the movies and on the Broadway stage in the early 1950s as a teenager and later reinvented herself as a television actress, writer and philanthropist.

Betsy von Furstenberg, Baroness and Versatile Actress, Dies at 83

A lapsed seminarian, Mr. Chambers succeeded Saul Alinsky as leader of the social justice umbrella group Industrial Areas Foundation.

Edward Chambers, Early Leader in Community Organizing, Dies at 85

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Harvey R. Miller, Renowned Bankruptcy Lawyer, Dies at 82

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.

Dan Walker, 92, Dies; Illinois Governor and Later a U.S. Prisoner

Mr. King sang for the Drifters and found success as a solo performer with hits like “Spanish Harlem.”

Ben E. King, Soulful Singer of ‘Stand by Me,’ Dies at 76

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

Native American Actors Work to Overcome a Long-Documented Bias

With 12 tournament victories in his career, Mr. Peete was the most successful black professional golfer before Tiger Woods.

Calvin Peete, 71, a Racial Pioneer on the PGA Tour, Is Dead

“It was really nice to play with other women and not have this underlying tone of being at each other’s throats.”

ay 4, 2015 ‘Game of Thrones’ Q&A: Keisha Castle-Hughes on the Tao of the Sand Snakes
harga paket umrah maret di Pondok Kopi jakarta
paket umrah april di Pondok Kelapa jakarta
harga berangkat umroh februari di Cipayung jakarta
harga paket umroh akhir tahun di Cipinang Besar Utara jakarta
harga berangkat umroh akhir tahun di Rawa Terate jakarta
biaya paket umrah juni di Munjul jakarta
harga umrah januari bekasi barat
biaya paket umrah april di Cipinang Besar Selatan jakarta
harga paket umrah akhir tahun di Bambu Apus jakarta
promo berangkat umroh april di Malaka Sari jakarta
promo umroh awal tahun di Cawang jakarta
biaya umroh awal tahun di Pondok Bambu jakarta
promo umrah akhir tahun di Balekambang jakarta
harga paket umroh mei di Utan Kayu Utara jakarta
paket berangkat umroh april di Rawamangun jakarta
paket promo berangkat umroh akhir tahun di Kramat Jati jakarta
paket promo berangkat umrah awal tahun di Utan Kayu Selatan jakarta
promo umrah mei di Makasar jakarta
paket umrah desember di Kebon Manggis jakarta
paket berangkat umrah akhir tahun di Balekambang jakarta
promo berangkat umroh april di Dukuh jakarta
harga umroh januari di Utan Kayu Selatan jakarta
biaya berangkat umrah mei di Dukuh jakarta
biaya umroh juni bekasi utara
promo umrah ramadhan di Kramat Jati jakarta
biaya berangkat umroh desember di Lubang Buaya jakarta
biaya paket umroh akhir tahun umrohdepag.com
biaya paket berangkat umroh maret di Malaka Sari jakarta
paket promo umroh akhir tahun di Ujung Menteng jakarta
biaya umroh awal tahun umrohdepag.com
harga paket umrah maret di Rawamangun jakarta
harga berangkat umrah februari di Jatinegara jakarta
paket promo berangkat umroh juni di Pulogebang jakarta
biaya umroh maret di Jatinegara jakarta
promo berangkat umrah april di Kramat Jati jakarta
harga berangkat umrah mei di Cakung Timur jakarta
paket berangkat umroh mei di Cawang jakarta
biaya berangkat umroh januari di Kayu Manis jakarta
biaya berangkat umrah akhir tahun di Lubang Buaya jakarta
biaya umroh ramadhan di Rambutan jakarta
biaya paket umrah desember di Cipinang Melayu jakarta
biaya paket umrah akhir tahun di Pasar Rebo jakarta
biaya paket berangkat umrah juni di Cakung Timur jakarta
paket promo umroh ramadhan di Kalisari jakarta
harga umroh awal tahun di Cipinang jakarta
promo berangkat umrah mei di Jatinegara jakarta
promo umrah maret di Jatinegara jakarta
biaya berangkat umrah akhir tahun di Jatinegara jakarta
harga paket berangkat umroh februari di Halim Perdanakusuma jakarta
biaya paket berangkat umrah april di Kebon Pala jakarta
paket promo umroh akhir tahun di Halim Perdanakusuma jakarta
biaya paket umroh desember di Rawa Bunga jakarta
paket promo berangkat umroh desember di Jati jakarta
harga berangkat umrah maret tangerang
harga paket umrah januari umrohdepag.com
harga berangkat umroh akhir tahun di Makasar jakarta
paket berangkat umrah ramadhan di Utan Kayu Selatan jakarta
biaya berangkat umroh maret di Pulo Gadung jakarta
biaya berangkat umroh awal tahun di Cilangkap jakarta
harga paket umroh februari di Bambu Apus jakarta
paket promo umroh juni bekasi timur
paket promo umroh ramadhan di Malaka Jaya jakarta
promo umrah februari di Matraman jakarta
harga umrah akhir tahun di Kalisari jakarta
promo berangkat umroh april di Pondok Bambu jakarta
promo berangkat umrah ramadhan di Cipinang Muara jakarta
harga berangkat umroh mei di Balekambang jakarta
biaya paket berangkat umroh mei di Pondok Bambu jakarta
biaya paket umroh ramadhan di Kayu Manis jakarta
biaya paket berangkat umroh ramadhan di Kebon Pala jakarta
promo umroh juni di Kramat Jati jakarta
harga umroh januari bekasi selatan
paket promo berangkat umroh awal tahun di Cipayung jakarta
biaya umroh april di Duren Sawit jakarta
harga berangkat umrah maret di Kramat Jati jakarta
biaya umroh juni di Bambu Apus jakarta
harga paket berangkat umroh juni di Rawa Bunga jakarta
biaya berangkat umroh juni di Pondok Bambu jakarta
harga berangkat umrah maret di Pisangan Timur jakarta
promo umrah april di Pondok Kelapa jakarta
promo umrah februari di Makasar jakarta
promo umrah ramadhan di Makasar jakarta
promo berangkat umrah mei di Pekayon jakarta
harga paket umrah maret di Ciracas jakarta
biaya paket umrah awal tahun di Cipayung jakarta
promo umrah maret tangerang
biaya berangkat umroh ramadhan di Cipayung jakarta
biaya umrah awal tahun di Duren Sawit jakarta
biaya umrah april di Bambu Apus jakarta
paket berangkat umroh februari di Jatinegara Kaum jakarta
biaya berangkat umroh april di Rawamangun jakarta
harga paket berangkat umroh desember di Pondok Kelapa jakarta
biaya berangkat umroh april di Rawa Terate jakarta
paket promo umrah februari di Cilangkap jakarta
biaya umrah akhir tahun di Kampung Baru jakarta
promo berangkat umroh desember depok
promo umroh desember di Pulogebang jakarta
paket promo umrah desember di Cililitan jakarta
harga paket berangkat umroh desember di Cipinang Melayu jakarta
biaya berangkat umroh desember di Duren Sawit jakarta